Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 217


__ADS_3

Alio meraih tangan Olivia lalu melihat jari wanita itu yang sudah berdarah.


"Kenapa kau selalu bertindak ceroboh?" tanya Alio kesal.


Suaranya yang terdengar mengomel dan wajah Alio yang kusut tak membuat Olivia kesal sama sekali.


Olivia merasa kalau Alio itu sedang khawatir padanya.


"Jangan khawatir, aku baik-baik saja," ucap Olivia lembut.


Alio pun berhenti bertanya pada wanita itu dan Olivia menarik tangannya kembali.


Karena mood Alio sedang huruk malam ini, tanpa sadar ia melampiaskannya pada putranya.


Saat Olvi menyentuh coklat di rak, ia mendengar suara dingin ayahnya. "Jangan beli coklat, jika kau tidak mau gigimu rusak!" larang Alio.


Jadi, Olvi memutuskan pilihan kedua. 


Yaitu, snacks.


"Tidak ada camilan, Itu Juga buruk untuk kesehatanmu. "


Olvi sedih karena Alio, lalu anak itu meraih makanan cepat saji.


"Tidak ada junk food!"


Terakhir, Olvi mengambil susu kotak.


"Tidak ada susu!"


Olvi tak bisa menahan tangis, anak itu memeluk kaki Olivia, menangis dengan matanya yang besar. "Mama! Papa memarahiku!"


Olivia tak tahan dengan tingkah putranya yang imut dan lucu itu, setiap kali Olivia melihat wajah putranya yang seperti itu, Olivia ingin menawarkan apa pun yang Olvi inginkan.

__ADS_1


"..." Olivia tak bisa membantu putranya saat ini.


Olvi benar-benar kesal. "Aku tidak akan pergi berbelanja dengan Papa lagi!"


Anak itu pergi ke area kasir sambil bergumam.


Papa sangat menyebalkan! Papa benar-benar menyebalkan!


Olivia berusaha untuk tak tertawa terbahak-bahak saat melihat itu, ini seharusnya menjadi perjalanan belanja keluarga yang menyenangkan. 


Namun keduanya pulang dengan kesal. Untungnya, ini tak akan terjadi setiap hari, atau Olivia akan pusing tujuh keliling.


Black card pun diberikan kepada kasir sebelum Olivia membuka dompetnya. 


Balck card itu adalah simbol status tinggi dan orang yang memiliki card itu semuanya kaya raya dan juga berkuasa.


Jadi tentu saja, kasir itu terkejut saat melihat black card.


Kemudian, si kasir langsung membuang muka dengan cepat dan mulai menjalankan tugasnya.


Olivia juga melihat card itu dengan rasa ingin tahu, jadi tak ada yang sadar kalau Olvi menaruh sebungkus permen ke keranjang diam-diam.


...—oOo—...


Olvi lelah setelah perjalanan keluarga ini, Alio menggendongnya di lengannya dan membawa tas belanjaan besar itu dengan tangan yang lain, mereka pun berjalan keluar dari tempat belanja.


Arnold sudah menunggu di luar ketika ketiganya keluar, ia langsung membuka pintu dengan hormat untuk mereka. 


Dan seseorang datang untuk mengambil alih plastik belanjaan besar itu.


Olivia juga masuk ke dalam mobil dan Arnold akan mengantar mereka pulang. 


Meskipun Olvi mengantuk, ia tak berani tidur di dalam mobil. 

__ADS_1


Anak itu pikir begitu ia tidur, Papanya pasti akan langsung membawanya pulang.


Akhirnya, mereka tiba area apartemen Olivia. 


Olvi mengikuti Mamanya keluar dari mobil.


"Papa, aku akan menginap di sini malam ini! Jangan bawa aku pulang!"


Olivia memegang tangan kecil putranya dan ia juga tak akan membiarkan Olvi pergi. 


Mereka pikir Alio pasti akan menolak. 


Tapi pria itu keluar dari mobil bersama mereka.


Alio menyuruh Arnold untuk menunggu di lantai bawah. 


Kemudian Alio membawa tas belanjaan itu menuju lift. 


Olivia bingung menatap pria itu. Apa yang sedang terjadi sekarang?


...—oOo—...


Rupanya Alio tak ingin langsung pergi setelah mengantarkan barang belanjaan itu. 


Pria itu berdiri di depan pintu sebentar, karena melihat Olivia tak menyadari apa yang sedang terjadi, Alio membuka suara. "Sandal."


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)


Thankyou so much and see you next part~

__ADS_1


__ADS_2