
Merasa hatinya sakit, Yuta dengan hati-hati menyentuh tombol jawab telpon.
Pada saat Yuta sadar dari lamunannya, telepon sudah terhubung.
"Halo, Mama? Mama dimana?"
Yuta lega mendengar suara lembut anak itu dan pria itu bersemangat lagi.
Ternyata itu Olvi, sepertinya Yuta terlalu banyak berpikir.
"Halo Mama? Kenapa Mama tidak bicara?"
"Apakah kamu Olvi? Aku bukan Olivia," jawab Yuta.
Disisi lain, Olvi menjadi blank, mata besarnya berkedip-kedip selama beberapa saat, lalu dia bertanya. "Anda siapa?"
"Aku Om Yuta."
"Om Yuta?" Olvi mengulangi dan wajah pria di depan anak itu langsung berubah dingin.
Alio mengambil telepon dari Olvi dan menekan tombol mute, lalu melemparkannya ke tempat tidur.
Setelah itu, Alio memberi instruksi kepada putranya untuk terus berbicara.
"Om, kamu ... masih bersama Mamaku pada jam selarut ini?"
"Ya, dia di kamar mandi sekarang. Aku akan memintanya untuk menelepon kamu kembali nanti, oke?"
__ADS_1
"Oke, tapi ... apakah kamu bersama dengan Mama seharian ini? "
"Ya."
Yuta takut Olvi akan khawatir dengan Olivia, jadi ia tak memberi tahu Olvi tentang kecelakaan hari ini.
Pria itu hanya berkata. "Kami sudah bersama seharian ini, jangan khawatir dengan Mamamu! Dia akan pulang besok."
Begitu…
"Mama akan menghabiskan malam ini bersamamu?" tanya Olvi melirik pria didepannya dengan mata besarnya.
Apa yang harus aku lakukan? Situasi ini ... Papa yang malang.
Sepertinya, Papa tidak punya kesempatan sekarang!
"Oke, aku akan menutup telepon sekarang—," sebelum Olvi selesai berbicara tangan Alio meraih handphone dan menutup telepon dengan tiba-tiba.
Olvi memandang wajah dingin pria itu, anak itu menatap Papanya dengan takut dan dengan cepat menyelinap ke dalam selimut.
Alio Mengambil handphonenya tanpa ekspresi, tak mengatakan apa-apa dan berjalan pergi.
"Anu ... Papa ...," saat Alio sampai di ambang pintu, anak kecil itu memanggilnya dengan suara pelan.
Alio berhenti tanpa berbalik.
Olvi bertanya dengan sedih. "Apakah om Yuta berkencan dengan Mama? Akankah Mama menikah dengannya di masa depan?"
__ADS_1
"Terserah dia ingin melakukan apa pun yang dia suka!"
Usai mengatakan kalimat itu, Alio membuka pintu dan melangkah keluar.
Setiap langkah yang diambil pria itu terasa berat dan kaku, kedua tangannya pun mengepal kuat hingga menampakkan urat-uratnya.
...—oOo—...
Yuta tak terlalu banyak memikirkan tentang telpon yang tiba-tiba terputus, karena ia yakin itu disebabkan oleh sinyal yang jelek.
Olivia mencari perawat dan mengganti pakaiannya, setelah kembali ke ruangan Yuta, ia mendapati pria itu masih terjaga.
"Apakah sangat menyakitkan sehingga kamu tidak bisa tidur?" tanya Olivia sambil membantu Yuta untuk memperlambat infus di tangan pria itu.
"Kamu belum kembali begitu lama, jadi aku agak khawatir. Oh, teleponmu berbunyi barusan dan aku telah menjawabnya untukmu, itu dari Olvi. ''
Olivia awalnya mengira itu adalah telpon dari Alio, tapi saat ia mendengar perkataan Yuta setelahnya, hatinya yang bersemangat tiba-tiba menghilang.
Olivia meraih handphonenya dan memeriksa riwayat telpon, kemudian nama 'Suami Masa Depan' terpantul di matanya.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
__ADS_1
Thankyou so much and see you next chapter~