
"Tidak!" tolak Alio mentah-mentah dengan tegas dan pria itu tetap membaca dokumen tanpa mengangkat kepalanya sedikitpun.
"Kalau nggak mau yaudah deh, aku juga nggak terlalu pengen tidur sama Papa!" ucap Olvi yang terlihat kecewa, sambil memasang muka cemberut. "Tadi Mama nanyain aku mau tidur sama Papa atau Mama dan aku justru pengen tidur sama Mama!"
Alio terdiam sejenak, lalu menatap anaknya dengan tatapan sedikit kesal. "Apa? Ada banyak kamar disini, kenapa kamu mesti tidur sama Mamamu?"
"Ya jelas dong, Pa! Aku, kan, masih anak kecil yang baru berusia empat tahun!" ucap Olvi sembari mengacungkan empat jarinya dan menggerak-gerakkannya di depan ayahnya, "kamar sebesar ini, masa aku tidur sendirian, sih? Gimana kalau tengah malem nanti aku terbangun karena mimpi buruk?"
"Bagaimana kau bisa disebut laki-laki sejati kalau kau saja masih penakut gitu?" tanya Alio dengan nada meremehkan.
"Nggak masalah, toh aku masih anak-anak juga, jadi suka-suka aku lah," jawab Olvi sambil tersenyum, seolah-olah tak peduli dengan perkataan orang lain.
Alio hanya bisa menghela nafas setelah mendengar itu karena anaknya itu baru menyadari kalau ia memang masih anak kecil! Padahal anaknya itu selalu mengatakan kalau ia adalah 'lelaki sejati'!
Saat Olvi berbalik dan siap-siap pergi sambil membawa iPad-nya, tiba-tiba Alio teringat sesuatu, lalu ia meraih tangan sang anak dan menariknya kembali. "Kau mau ke mana?"
__ADS_1
"Tentu saja aku akan tidur di kamar sebelah malam ini sama Mama. Oh ya, Papa jangan kangen sama kita ya~"
Alio ngibas selimut sambil menahan tangan anaknya. "Itu takkan terjadi karena Papa berubah pikiran sekarang."
"Apa?" Olvi terlihat sangat terkejut dan kebingungan.
Alio yang terlihat sedikit kesal, menepuk-nepuk tempat di sampingnya. "Malam ini kamu akan tidur di sini!"
Olvi yang baru sadar, menatap ayahnya dengan ekspresi menyebalkan, "tapi aku nggak berubah pikiran, tuh?"
Saat Olvi hendak pergi, Alio langsung merampas iPad dari tangan anaknya, lalu memasukkan anak itu ke dalam selimut dan memeluknya.
Alio mengernyitkan keningnya, lalu berkata, "tidak, kau akan tidur disini malam ini, tidak ada penolakan, jadi percuma saja kau protes!"
"Papa nggak boleh kejam gini sama aku!" cibir Olvi, yang pada akhirnya pasrah juga dan berhenti memberontak. "Papa menyebalkan!" kesal Olvi.
__ADS_1
Setelah itu, barulah Alio senang, dengan penuh 'perhatian' ia ngerapiin selimut untuk anaknya.
Meskipun di dalam hati Olvi, anak itu bener-bener ngerasa kesal dan sedih banget.
...—oOo—...
Setelah mandi dan mengenakan piyamanya, Olivia keluar mencari anaknya, tapi setelah mencari di semua kamar, Olivia tak menemukan anaknya itu dimanapun, kecuali satu kamar yang belum ia periksa, yaitu kamarnya Alio.
Olivia berhenti sejenak di depan pintu kamar Alio—mempertimbangkan dengan cermat, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengetuk pintu kamar tersebut.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thank you so much and see you next chapter~