
"Bukan apa-apa … sekarang cepat kamu bangun!" Olivia mengalihkan pembicaraan dan menepuk pantat kecil putranya.
Setelah Olvi selesai bersiap-siap, ia turun untuk sarapan. Olivia pergi ke kamarnya sendiri untuk bersiap-siap juga.
Dia berpikir selama beberapa saat hingga akhirnya memutuskan untuk berbicara terus terang pada Alio.
Lagipula, Olivia harus tinggal di sini sementara waktu untuk menemani Olvi, mereka pasti akan bertemu dan tak bisa menghindar satu sama lain.
Jadi, akan lebih baik jika menjelaskan kepada Alio dengan jelas dan secepat mungkin.
Ketika Olivia turun, ia melihat Alio sedang melangkah keluar, ia pun segera menghampiri pria itu dan memanggilnya. "Pak Presiden."
Alio berhenti dan berbalik, situasinya sedikit canggung saat pria itu menatap Olivia.
Apalagi Arnold dan para bodyguard yang mengikuti Alio juga memalingkan wajah mereka, karena itu Olivia sangat malu untuk memulai pembicaraan.
Olivia berjalan mendekati Alio dan berkata dengan suara pelan. "Tadi malam … saya harap Anda tidak salah paham."
Alio mengerutkan keningnya. "Salah paham?"
"Saya salah mengira kalau Anda adalah Olvi dan saya benar-benar tidak tahu kalau itu Anda. Jadi, kejadian semalam itu adalah kecelakaan dan Anda harus melupakannya agar tidak semakin salah paham!"
Olivia adalah satu-satunya wanita yang meminta Alio untuk melupakan semuanya setelah mereka berciuman!
Apakah Olivia tahu berapa banyak wanita diluar sana yang bermimpi bisa mencium Alio?
Mata Alio menjadi lebih dingin dan ia memandang Olivia dengan acuh tak acuh, lalu berbicara tanpa ekspresi. "Aku tidak akan mengingat hal-hal sepele seperti itu."
__ADS_1
Setelah menyelesaikan kalimat itu, Alio benar-benar mengabaikan Olivia! Pria itu masuk ke dalam mobil dan pergi tanpa ragu-ragu.
Melihat iring-iringan mobil yang menghilang secara perlahan dari pandangannya, Olivia berdiri dengan wajah cemberut.
Hal sepele ...
Memang.
Bagaimana mungkin seorang presiden yang super sibuk dan memiliki banyak urusan negara seperti dia, peduli dengan 'kecelakaan' seperti itu?
Jadi, untuk apa Olivia repot-repot menjelaskan sesuatu yang tak perlu?
Sangat konyol!
Olivia kesal dan menyesal atas apa yang telah ia lakukan.
Sebenarnya, Olivia tak berharap Pria itu akan mengingatnya, kan?
...—oOo—...
Setelah selesai sarapan, Olivia sibuk mengerjakan materi penilaian.
Disisi lain, Olvi dengan semangat bermain senjata imitasi yang dihadiahkan Arnold padanya.
Tampaknya, para pria memiliki kegemaran dan minat khusus terhadap hal-hal semacam itu.
Begitu juga dengan anak-anak.
__ADS_1
Olivia sudah menyerah mencoba membujuk Olvi agar tak terus bermain-main, karena ia tahu kalau itu tak berguna.
Saat itu, handphone Olivia tiba-tiba berdering.
Melihat nomor yang berkedip di layar, Olivia meletakkan pulpennya lalu menjawab telepon.
"Olivia, Nenek sudah mengatur kencan untukmu."
Itu adalah neneknya.
"Apa?"
"Terakhir kali Nenek bilang akan mengatur kencan buta untukmu. Apakah kamu sudah mengingatnya? "
"..."
Sebenarnya, Olivia telah melupakannya.
"Nenek akan memberikan alamatnya, pergi ke sana sekarang! Ingatlah untuk datang sebelum jam 11. Jangan sampai dia menunggu lama. Apakah kamu mengerti?"
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
__ADS_1
Thankyou so much and see you next chapter~