
"Awas! Awas!"
Tiba-tiba, suara teriakan terdengar bersamaan dengan suara roda yang berisik.
Olivia langsung tersadar dari pikirannya, ia menoleh dan mendapati deretan troli melaju ke arahnya.
Bahkan, sebelum Olivia bisa bergerak, lengan Alio yang kuat menariknya dan melindunginya dari tabrakan troli-troli itu.
Sehingga, tak ada sesuatu yang serius terjadi.
Olivia bisa merasakan tangan Alio di pinggangnya terasa hangat, ia sangat dekat dengan dada Alio, tubuh tinggi dan kuat milik pria itu membuatnya merasa aman.
Olivia bisa mendengar detak jantung Alio dengan jelas dan syok yang ia rasakan tadi langsung menghilang dengan cepat.
"Apa yang sedang kau lakukan? Apakah kau tidak tahu itu berbahaya?" tanya Alio sambil menatap Olivia, pria itu juga mengerutkan keningnya.
Alio ingin menyalahkan Olivia, jika ia tak menariknya, wanita itu bisa terluka parah.
Tangan Olivia masih berada di pundak Alio.
Olivia tersipu ketika Alio menatap dalam ke matanya. Napas pria itu, aroma tubuhnya yang unik.
Olivia tak bisa tak memikirkan kejadian di bus semalam. "Aku hanya ... sedang memikirkan sesuatu."
Bahkan, suara Olivia terdengar tak seperti biasanya.
Alio sepertinya menyadari ada sesuatu yang tertinggal di antara mereka.
__ADS_1
Tatapan Alio menjadi lembut. "Apakah troly tadi menabrakmu?" tanya pria itu dengan suara pelan dengan tangan yang masih memegang pinggang Olivia.
Wanita itu langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, saya baik-baik saja."
Kemudian, Olivia melangkah mundur dan menjauh dari pelukan Alio.
Tangan pria itu terlepas dari pinggang Olivia dan detak jantung Olivia kembali pada kecepatan normal.
Olvi menatap kedua orangtuanya dengan senyum lebar di wajahnya. "Itu sangat keren, Papa. Kamu seperti superhero!"
Alio sedikit mengernyit saat melihat Olivia berusaha menghindari matanya, pria itu tak mengatakan apa-apa dan berjalan pergi dengan Olvi. "Ayo pergi!"
Ada perasaan hangat yang tak bisa dijelaskan dalam benak Olivia saat ia mengawasi mereka.
Olvi adalah anak laki-laki yang lucu, anak itu bisa menarik perhatian banyak orang.
Entah bagaimana, Olivia merasa puas dengan itu, dengan senang hati ia mengambil keranjang dan mengikuti mereka.
Rupanya Alio belum pernah jalan-jalan seperti ini sebelumnya.
Kebisingan dan bau di tempat belanja membuatnya agak mual.
Arnold dan bodyguard lainnya mengikuti mereka dengan hati-hati, setelan jas hitam yang mereka kenakan membuat mereka menonjol di antara kerumunan.
Siapa pun akan mengatakan bahwa mereka tak sedang berbelanja disini.
...—oOo—...
__ADS_1
"Berapa lama lagi kita berada disini?" Alio tak bisa berhenti bertanya kapan Olivia berhenti untuk mengambil barang.
"Kita baru saja tiba, aku juga belum mengambil snacks yang aku inginkan," jawab Olvi.
Olivia melihat mereka berdua sedikit berdebat dan ia tersenyum hangat lalu berkata. "Ini akan lama karena ada banyak barang yang kami butuhkan dan kami baru saja memilih beberapa. Jika Anda merasa tidak nyaman, lebih baik Anda pulang saja sekarang."
Saat Alio mendengar itu, wajah pria itu menjadi muram.
Memang benar bahwa pria tak suka berbelanja, tapi berapa banyak pria di sini yang Alio lihat sangat senang berbelanja dengan istri mereka? Meskipun Alio tak suka berbelanja di sini, ia benar-benar tak ingin pergi.
Alio memilih sebotol deterjen dengan asal dan melemparkannya ke keranjang, sementara Olivia memilih deterjen dengan hati-hati.
"Aku yang akan membayarnya, jangan ragu!"
"Tidak, kita tidak bisa asal membelinya," sahut Olivia mengembalikan deterjen itu dan memilih merek lain.
"Kalian para wanita sangat ribet."
Alio tak bisa mengerti sama sekali, tak ada perbedaan antara kedua deterjen.
Apakah pantas membuang terlalu banyak waktu hanya untuk memilih deterjen?
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
__ADS_1
Thankyou so much and see you next part~