
"Ada lagi yang perlu Anda sampaikan? Kalau tidak, saya akan pergi dulu."
Sepertinya Alio tak sadar akan keterkejutan di wajah pria tua itu, atau mungkin ia sama sekali tak peduli.
Alio bangkit dan merapikan pakaiannya.
Awalnya, ayah Alio memang sudah siap dengan segala umpatan yang ingin ia sampaikan, tapi malah terdiam oleh persetujuan Alio yang tiba-tiba.
Pada akhirnya, pria tua itu hanya menatap Alio dengan curiga beberapa kali, tapi pada akhirnya ia tak bisa menebak apa yang ada di pikiran Alio.
Dengan rasa jengkel, ayah Alio melambailan tangan dan menjawab. "Pergi sana!"
Alio bangkit dan pergi, setelah keluar dari kantor ayahnya, ekspresinya menjadi sangat suram.
Ayah Alio masih berdiri di sana, memandangi punggung Alio yang perlahan menghilang, bahkan setelah Alio pergi, pria tua itu masih merasa ragu dan bingung.
Rasanya ada sesuatu yang aneh! Kapan kepribadian Alio berubah?
...—oOo—...
__ADS_1
Ketika Alio menuruni tangga, jam baru menunjukkan pukul delapan.
Nyonya Wilson selalu merasa cemas dan menunggu di ujung tangga, efek isolasi suara di dalam rumah ini sangat bagus, jadi ia tak bisa mendengar apa yang dibicarakan ayah dan anak itu di lantai atas.
Begitu putranya turun, Nyonya Wilson segera menyambutnya dengan cepat.
Wanita tua itu langsung melihat goresan di wajah putranya dan merasa sedih.
Dengan perasaan marah, Nyonya Wilson memanggil putrinya. "Ayahmu ini benar-benar! Sudah pensiun bertahun-tahun, tapi sifatnya yang keras kepala itu belum berubah, dia masih memperlakukanmu seperti seorang pasukan! Alea, cepat ambil obat!"
"Ma, ini hanya luka kecil."
Luka ini tak berarti apa-apa dibandingkan dengan luka-luka lain yang Alio alami selama bertahun-tahun bersama Alea, sama sekali tak bisa disebut luka.
Alea juga berpikiran yang sama, ia tak bergerak dan hanya melihat Alio dengan prihatin.
"Sekarang aku sudah tua, tidak seperti dulu saat masih muda. Waktu aku masih muda, saat ayahmu terluka, aku tidak takut. Tapi sekarang ... ketika kalian berdua ada masalah, hatiku tidak tenang. Jangan terlalu mempermasalahkan ayahmu, dia hanya ingin menyelamatkan pamanmu dengan sungguh-sungguh. Pada akhirnya, pamanmu juga menderita selama bertahun-tahun di penjara karena dia, dan itu telah menghancurkan separuh hidupnya."
Ibu Alio semakin sedih saat ia berbicara, Alio melirik Alea yang mengerti maksud ibunya dan wanita itu langsung merangkul bahu sang ibu. "Ma, jangan terlalu memikirkannya, makanan sudah siap di meja. Alio, tinggallah dan makan malam bersama kami."
__ADS_1
Alio melihat jam dan menggelengkan kepalanya. "Aku masih ada urusan, aku tidak akan makan."
"Terlepas dari urusanmu, kamu tetap harus makan. Bagaimana tubuhmu bisa bertahan tanpa makanan?" bujuk Alea menarik pria itu.
Alio menatap Alea, suaranya menjadi lebih lembut. "Aku punya janji dengan Olivia."
Alea tertegun sejenak, tapi detik berikutnya, ia memelankan suaranya dan berkata dengan cemas. "Lagi-lagi bertemu di saat seperti ini, apakah kalian tahu betapa berbahayanya itu?"
Alio memberi Alea tatapan meyakinkan agar saudarinya itu tenang. "Ma, aku pergi dulu, nanti aku akan datang lagi untuk bertemu Mama dan Papa."
- Bersambung -
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1