Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 153


__ADS_3

Wanita di dalam sudah sangat lemah sehingga ia bisa roboh kapan saja.


Alio menatap Olivia dan wajah pria itu tampak dingin seperti biasanya.


Olivia tercengang, ia tak pernah menyangka kalau Alio akan muncul di hadapannya sekarang.


Namun, perasaan kaget dan bahagia di hati Olivia hanya berlangsung selama beberapa detik.


Saat Olivia memikirkan kondisinya yang sekarang, ia menutup mulut dan hidungnya menggunakan satu tangan dengan rapat dan tanpa sadar mencoba menutup pintu dengan tangannya yang lain.


"Beraninya kau menutup pintu!" bentak Alio dengan tatapan marah.


Karena terkejut dengan perkataan pria itu, Olivia berhenti dan menatap Alio dengan mata berkaca-kaca.


Sekarang, Alio tampak seperti harimau yang ganas. "Keluar!" perintah pria itu.


Olivia berjalan perlahan karena kakinya terasa lemas.


Lalu, Alio langsung mengulurkan tangannya dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya, jadi Olivia menabrak dada kokoh pria itu yang keras seperti batu dan ia hampir pingsan karena benturan ini.


Alio menyentuh kening Olivia dengan punggung tangannya dan pria itu terkejut karena suhu tubuh Olivia, ia berbisik kepada Arnold. "Minta dokter Lay untuk mengumpulkan stafnya dan menunggu di kediaman Presiden!"


"Baik," balas Arnold cepat.


"Jangan terlalu dekat denganku!" ucap Olivia takut membuat Alio tertular.

__ADS_1


Olivia berusaha keras untuk menyingkirkan tangan Alio, karena demamnya cukup parah, ujung jarinya pun ikut basah karena berkeringat.


Tanpa melonggarkan tangannya di pinggang Olivia, Alio menyibak rambut basah yang menutupi sebagian wajah cantiknya, lalu jejak merah lima jari terekspos jelas di pipi wanita itu.


Bahkan, Arnold di samping mereka terkejut dengan keadaan Olivia.


Jelas, seseorang telah menampar wajah Olivia.


"Bagaimana kau mendapatkan ini?" tanya Alio dengan alis mengernyit dan udara menegangkan disekitar pria itu membuat orang lain hampir mati lemas.


Olivia memalingkan wajahnya dan tak mengatakan apa-apa.


Alio memegang dagu Olivia dengan satu tangan dan memalingkan wajah wanita itu menghadapnya.


Olivia mengerutkan kening karena merasa kesakitan.


Alio memelototi wanita itu dan kemudian menoleh pada Yuta. "Siapa yang melakukan ini?" tanyanya dengan suara dingin.


Sampai saat ini, Yuta sebagai pengamat, sudah mengetahui dengan jelas apa yang di pikiran Pak Presiden.


Yuta sendiri bisa melakukan apapun untuk Olivia, karena untuk salah satu pria berkuasa di negara ini, ia juga tak pernah gentar atau ragu sebelum pikirannya terganggu karena Olivia.


"Tuan penerjemah, Pak presiden bertanya pada Anda," ucap Arnold mengingatkan Yuta.


"Itu hanya kesalahpahaman, Julia tidak seperti Olivia, dia agak sedikit ceroboh," jawab Yuta.

__ADS_1


"Julia?" ucap Alio menatap Olivia. "Tunangannya?"


Pria itu sengaja menyebut kata 'tunangan'.


Olivia mengangguk dan berdehem. "Hmm."


Alio mendengus. "Kau pantas mendapatkannya! Kenapa kau membuat wanita itu marah?!"


"..."


Baik Arnold dan Yuta tercengang.


Mereka mengira kalau Pak Presiden akan melampiaskannya pada Julia, atau setidaknya menuntut keadilan untuk Olivia. Tapi malah sebaliknya...


Olivia menjadi sangat marah, bahkan matanya juga memerah. Wanita itu menepis tangan Alio dengan tiba-tiba.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~

__ADS_1


__ADS_2