Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 386


__ADS_3

Alio memeluk ibunya, lalu wanita tua itu berkata. "Jaga cucuku baik-baik, waktu kamu balik kesini nanti harus bawa dia juga, ya!"


"Baiklah."


Begitu Alio pergi, wanita tua itu langsung bertanya kepada Alea. "Alio tadi bilang janjian sama siapa? Dia menolak menemani Mama makan malam karena harus pergi menemui orang itu."


Alea tersenyum sambil ngeles. "Itu hanya rekan-rekan politiknya."


...—oOo—...


Waktu Alio keluar, ada sopir dan beberapa bodyguard yang sudah menunggunya di sana. Sopir itu membuka pintu dan menunggu Alio masuk ke dalam mobil.


Mood Alio tampak tak baik dan ia hanya memerintahkan tiga kata ke sopir. "Pergi ke hotel!"


...—oOo—...


Alio bersandar di dalam mobil dengan posisi tangan yang menumpu wajahnya, ia terus teringat dengan perkataan Ayahnya tadi tentang Olivia dan merasa sangat tersinggung.


Olivia bukan tipe orang seperti itu, tapi karena kesalahan Alio, Olivia jadi banyak disalahkan.


Alio mengambil handphonenya, membuka password dan melihat layar. Sekarang sudah lewat waktu makan malam, tapi Olivia masih belum menelponnya, bahkan pesan juga tak ada.


Sama persis seperti dua hari yang lalu.

__ADS_1


Selain ibunya dan Alea di rumah, Alio hampir tak memiliki hubungan dekat dengan wanita lain, apalagi memahami pikiran wanita.


Jadi, Alio benar-benar tak mengerti, apakah semua wanita seperti Olivia yang begitu patuh, tapi bisa berubah benar-benar cuek dan tak ingin tahu.


Entah kenapa, walaupun Alio tahu Olivia tak ingin menyusahkan dirinya, tapi melihat handphonenya yang sunyi, hatinya tetap tak puas.


Jika Olivia benar-benar mengkhawatirkanku dan merindukanku, bagaimana bisa wanita itu menahan diri dengan bersikap sangat cuek dan tak ingin tahu?


Ketika Alio tersadar kembali, entah kenapa ia telah mengetik beberapa kata di handphonenya dan mengirimkannya tanpa sadar.


Dan ternyata Alio mengirimkannya kepada Olivia!


Alio mengirimkan pesan 'Kau sudah di hotel?'.


Alio menekan nomor Arnold dan menelponnya.


"Arnold," panggil Alio usai teleponnya terhubung.


"Iya, Kak?" jawab Arnold cepat. Begitu Arnold mendengar suara Kakaknya, ia langsung bertanya dengan hati-hati, "Ada apa, Kak?"


"Tidak perlu gugup, bukan masalah besar—," ucap Alio menggantung sambil menatap handphonenya.


Arnold di seberang sana menunggu dengan diam. Setelah menunggu sebentar tanpa mendengar lanjutan dari Alio, Arnold memanggilnya, "Kak Alio?"

__ADS_1


"Sudahlah, tidak ada apa-apa."


Alio melirik jam di handphonenya, sudah satu menit sejak ia mengirim pesan, tapi Olivia belum juga membalas.


Setelah mendengar Alio bilang tak ada apa-apa, Arnold menjadi lebih santai. Tapi, tak lama setelah itu, suara Alio kembali terdengar di telpon. "Arnold."


"Ya, Kak!" sahut Arnold langsung waspada.


"Apakah wanita sekarang, semuanya sangat cuek?"


Setelah ragu dan berpikir, Alio akhirnya mengeluarkan pertanyaan itu dengan sedikit canggung.


"Apa?" Arnold merasa ia mungkin salah dengar. Dalam situasi yang penuh tekanan seperti ini, seorang Presiden masih sempat memikirkan tentang wanita?


Alio merasa tak nyaman dengan nada bicara Arnold, jadi ia tanpa sadar langsung to the point. "Aku bertanya, apakah wanita sekarang semuanya seperti Olivia, tiba-tiba bisa cuek dan tidak ingin tahu tentang apa pun!"


- Bersambung -


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~

__ADS_1


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2