Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 316


__ADS_3

Jesi masih terkejut dan mengelus dadanya.


Julia juga tampak ketakutan dan air matanya masih mengalir di wajahnya.


Jesi merasa marah. "Bukankah kamu yang bilang kalau Pak Presiden akan bertunangan dengan Nona Scarlett? Sekarang kenapa Olivia sangat dekat dengan Pak Presiden?"


Julia merasa terdesak. "Bagaimana mungkin aku bisa mengetahui hal itu, Ma? Aku juga tidak terlalu memahami apa yang baru saja terjadi."


Jesi mulai merasa sakit kepala saat memikirkan hal ini. "Jangan terlalu dipikirkan, Pak Presiden sudah memperingatkan kita. Meskipun dia mendukung Olivia, kita harus tetap berhati-hati di masa depan. Jika bukan karena bantuan Yuta, kita mungkin sudah mati!"


Yuta diam seribu bahasa, matanya terpaku pada mereka berdua. "Kalian tidak akan bisa lagi mengganggu Olivia dan Olvi. Mereka dilindungi oleh Pak Presiden sekarang. Meskipun Pak Presiden mungkin tidak ingin kalian hidup lagi, tolong renungkan masalah ini!"


Wajah Jesi tiba-tiba menjadi dingin, ia tak sepenuhnya setuju dengan perkataan Yuta. "Kamu tidak perlu mengajariku atau menakut-nakuti kami. Julia, ikuti aku!"


"Kak Yuta," Julia menolak untuk pergi dan memegang tangan Yuta, air matanya menetes. "Kakak juga melihatnya, Kak Olivia tidak sebaik yang kamu kira. Kamu melihat kan? Apa yang dia lakukan pada Mama?"


Yuta merasa sedikit lelah setelah melihat semuanya tadi.


"Oke, Julia, ayo masuk bersama Mama!" ujar Jesi.


Meskipun enggan, Julia masih memegangi lengan baju Yuta tanpa melepaskannya. Melihat adegan ini, Jesi tiba-tiba kehilangan kesabaran. Wanita itu bergegas dan langsung menarik tangan Julia dari lengan Yuta. "Masih berani berharap? Kamu tidak pantas untuknya!" ucapnya tegas.

__ADS_1


"Mama, ini semua kesalahan Olivia," ujar Julia, mencoba membela Yuta.


"Hmm, biarkan dia pergi ke Olivia, lagipula Olivia tidak bodoh, dia memiliki Presiden bersamanya. Yuya ... Kamu telah dibutakan oleh cinta Sampai-sampai kamu berani menolak putriku!" balas Jesi, menyalahkan Yuta.


"Ma, jangan terlalu menyalahkan Kak Yuta. Jika bukan karena pertolongan dari Kak Yuta, mungkin kita sudah mati," tambah Julia, mencoba melindungi dan membela Yuta.


Jesi merasa emosinya meledak-ledak dan memaksa Julia untuk mengikutinya. "Julia cepat ikut Mama!"


Mereka berjalan sepanjang jalan dalam keadaan terpengaruh alkohol.


...—oOo—...


Olivia masih tak sadar dan terus berada dalam pelukan Alio yang membuatnya merasa nyaman dan terlindungi.


Wanita itu tertidur dengan tenang, tanpa diganggu oleh siapapun, termasuk Olvi.


Alio tak bisa tak memperhatikan Olivia dan melihat bekas air mata di mata wanita itu.


Olivia terlihat sangat menyedihkan dan tak berdaya.


Alio mengambil tisu dan menyerahkannya pada Olvi seraya berkata, "Sini, bersihkan air mata ibumu."

__ADS_1


Olvi mengangguk dan mendekat untuk menyeka air mata Olivia.


"Pelan-pelan, jangan bangunkan Mamamu!" desak Alio dengan suara lembut.


"Iya iya," jawab Olvi pelan.


"Bagaimana kamu menjaga Mamamu disana? Lihatlah dia menangis seperti ini!" Alio mengerutkan keningnya dan menyalahkan putranya. 


Olvi yang merasa disalahkan mengernyitkan alisnya. "Nenek yang memprovokasi Mama, Mama merasa sakit hati melemparkan piring dan sendok. Tapi, nenek pantas mendapatkannya karena terlalu jahat. Papa juga membuat Mama sedih."


Alio terkejut dan merasa tak senang mendengar pernyataan putranya. "Aku tidak menyangka bahwa aku membuatnya sedih."


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~

__ADS_1


__ADS_2