
Alio melirik putranya tapi tak memperhatikan hal lain, jadi pria itu hanya mengangguk dan terus berjalan.
Olivia kaget dan terus memikirkan perkataan putranya, saat ia sadar, ia hanya bisa melihat punggung pria itu. Olivia bermaksud untuk bertanya apakah putra mereka mengatakan yang sebenarnya?
Tapi, Olvi menggosok tangannya dan membungkuk, memohon pada Olivia agar tak menjualnya.
Wanita itu berhati lembut, jadi ia tak mengungkapkan pertanyaannya.
Olivia berjalan mengikuti Alio dari belakang, ia menatap bahu lebar pria itu beberapa kali dengan perasaan yang campur aduk.
Olivia bingung sampai Arnold membukakan pintu untuk Alio dan pria itu masuk ke dalam mobil.
Arnold tersenyum dan memanggilnya. "Kak Olivia."
Olivia tiba-tiba tersadar karena panggilan itu.
Oh my god! Aku benar-benar mengikuti pria itu sampai sini.
"Maaf," ucap Olivia dengan suara pelan dan merasa sangat malu sehingga ia tak berani menatap Alio di dalam mobil.
Kemudian, Olivia berbalik pergi menuju sopir yang sudah menunggunya di belakang.
__ADS_1
Sementara itu, Arnold tiba-tiba bersuara. "Aku sangat sibuk akhir-akhir ini, jadi aku tidak punya waktu untuk memberi selamat kepada Kak Olivia."
Olivia tak mengerti, jadi ia menoleh dan menatap pria muda itu. "Selamat untuk apa?"
"Tentu saja untuk pekerjaanmu. Selamat untuk Kak Olivia, karena sudah lulus penilaian dan secara resmi diterima masuk ke Kementerian Luar Negeri."
"Terima kasih," balas Olivia dengan sopan dan ia merasa tersanjung. "Aku tidak tahu kalau kamu akan memperhatikan pekerjaanku, mengingat kamu sangat sibuk, terima kasih sudah sangat perhatian."
"Orang yang sangat perhatian itu pasti Kak Alio," sahut Arnold sambil tertawa pelan.
"Pak Presiden?" tanya Olivia memastikan dan melihat ke dalam mobil tanpa sadar.
Apa hubungannya dengan pria itu?
"Sekretaris Arnold, apakah kamu tidak sibuk?" suara dingin dari dalam mobil menyela perkataan Arnold.
Jendela mobil perlahan turun dan wajah tampan Alio muncul, pria itu melirik adiknya. "Aku tidak tahu kamu banyak bicara."
"..." Arnold terdiam dan tak berani berbicara lagi, pria muda itu hanya mengangguk pada Olivia dan berbalik untuk pergi.
Olivia sedikit mengernyitkan alisnya, setelah melihat Alio, ia tanpa sadar mengulurkan tangan dan menarik lengan Arnold.
__ADS_1
"Arnold, tolong selesaikan perkaraanmu sebelum pergi."
"Aku sudah terlalu banyak bicara Kak Olivia, jika kamu ingin tahu tanyakan saja pada Kak Alio."
Arnold tak berani tetap disini lebih lama lagi dan Olivia tentu saja tak bisa menahannya agar tak pergi.
Lima buah mobil berbaris dengan rapi dan perlahan-lahan pergi meninggalkan mansion.
Olivia berdiri ditempat sambil merenung, menatap iring-iringan mobil yang perlahan-lahan menghilang dari pandangannya, lalu wanita itu tiba-tiba berbalik kembali menuju dalam mansion.
"Olvi." Olivia memanggil putranya.
Mendengar itu, anak itu segera menyahut. "Iya Ma? Kenapa Mama kembali lagi?"
Olivia mengeluarkan ponselnya dan bertanya pada putranya. "Apakah kamu punya nomor telpon pribadi Papamu?"
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~