
Setelah itu, Olivia segera menundukkan kepalanya karena ia tak bisa menatap mata Alio lagi.
Olivia merasa takut kalau Alio akan semakin marah padanya. Namun, situasinya malah menjadi lebih buruk ketika Olivia merasakan tatapan tak senang dari Alio.
"Sudah larut, kamu harus pulang sekarang," ucap Olivia tanpa menatap pria itu sama sekali.
Wanita ini... menyuruhku pulang tanpa ingin menatapku sama sekali?
Saat berikutnya, Olivia hanya mendengarkan napas pria itu memburuk di depannya, pergelangan tangannya menegang, tubuh langsingnya bergetar, tiba- tiba tulang punggungnya menghantam dinding.
Olivia meringis kesakitan, tangan pria itu memegang dagunya dan mengangkat wajahnya untuk menatap mata Alio. "OLIVIA STEIN LIHAT AKU!!"
Alio berteriak dengan marah sambil menggenggam erat lengan Olivia.
Mood Alio memburuk sejak tadi dan terlihat dari tatapan matanya yang penuh kekecewaan yang sangat besar.
Olivia gemetar, merasa sudah tahu kalau kejadian ini akan terjadi sejak ia memutuskan untuk mengembalikan barang-barang yang diberikan oleh Alio.
Olivia sendiri juga kesal dan mencoba melampiaskannya dengan membuka mulutnya dan menggigit bibirnya sendiri.
Alio mengerutkan kening dan kekecewaannya semakin bertambah melihat respon Olivia. Kemudian, pria itu membungkuk dan mencoba mencium bibir Olivia.
__ADS_1
Saat bibir Alio mendekat, Olivia segera memalingkan wajahnya dan perlahan-lahan air mata mulai mengalir.
Mereka berdua terdiam dan tak melakukan tindakan lebih lanjut.
Olivia merasa napasnya semakin tertekan dan matanya semakin berat.
Keegoisan Alio menguasainya tanpa memikirkan salah satu pihak yang bahkan lebih tersakiti.
Namun, Olivia akhirnya memberanikan diri untuk menatap Alio yang basah oleh air mata. "Hiks, apa yang kamu inginkan dariku?" ucapnya lirih.
"Apa maksudmu?" tanya Alio kesal saat melihat Olivia menangis.
Meskipun sebenarnya Alio tak berniat membuat wanita itu menangis, namun ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikirannya yang sulit untuk dijelaskan.
Matanya terangkat dan menatap mata Alio dengan penuh keyakinan.
Semua reaksi fisik yang ditunjukkan Olivia, baik sebelum maupun setelah ini, telah mengungkapkan pikirannya dengan jelas.
Olivia bukanlah orang bodoh, ia ingin berbicara pada Alio dengan baik.
Olivia mencintainya, ia sungguh-sungguh memiliki perasaan untuk Alio, tapi pertunangannya menjadi duri yang menusuk hatinya.
__ADS_1
Alio menatapnya, seolah mempertimbangkan kata-katanya dengan hati-hati. Untuk waktu yang lama, ia menegakkan tubuh dan tak menyangkal. "Jika itu yang terjadi, lalu apa yang harus kita lakukan?"
Alio memang benar-benar ingin tidur dengan Olivia.
Olivia terkejut dengan jawaban Alio, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat.
Namun, Olivia tak ingin menyembunyikan perasaannya dan juga tak punya alasan untuk menyembunyikannya.
Apa salahnya? Berhubungan **** dengan seorang Wanita adalah sifat Pria.
"Apakah kau ingat? Jika kita tidur bersama, kita tidak akan berhubungan lagi kedepannya. Begitulah kesepakatannya," ucap Olivia mantap.
Olivia mencoba untuk mengucapkan kalimatnya dengan tenang, tapi ketika ia berada dalam kegelapan, tangannya terkepal erat dan ia harus bersabar untuk mendengar jawaban dari Alio.
Alio tak menyangka kalau Olivia akan mengucapkan kalimat seperti itu, dan pria itu terkejut.
Mood-nya menjadi lebih buruk dari sebelumnya. "Jangan mengulanginya lagi. Aku tidak ingin mendengarnya darimu!" ujar Alio dengan tegas.
— Bersambung —
***
__ADS_1
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
Thankyou so much and see you next part~