Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 342


__ADS_3

Setelah Olivia pergi, tatapan Alio berubah menjadi sangat dingin dan tidak bersahabat.


Diam-diam, Alio menempelkan ibu jarinya di bibirnya, mencoba merasakan sekali lagi sensasi ciuman mereka, yang masih tersisa di dalam ingatan Alio.


Perasaan tidak tenang, jantung yang berdebar kencang, membuat Alio kesulitan untuk mengendalikan dirinya sendiri.


Alio kebingungan dengan perasaannya sendiri dan merasa, kalau keputusan yang ia ambil lima tahun yang lalu adalah kesalahan.


Alio yang merasa ragu, bertanya-tanya apakah lebih baik dirinya terus melakukan kesalahan ataukah mencoba memperbaikinya?


Tiba-tiba, suara riang Olvi dari lantai atas memecah keheningan, "Papa nggak jadi menikahi wanita lain, kan? Dan aku nggak jadi punya ibu tiri, kan?"


Ketika Alio mendongakkan kepalanya, tatapannya pun langsung berubah tajam karena sang putra masih belum tidur juga, bahkan anak itu mengintip dengan setengah kepala kecilnya!


"Apa yang kau lihat tadi?" tanya Alio dengan nada dingin sambil berjalan naik ke atas.


Olvi tersenyum nakal—sebelum menjawab. "Aku melihat Mama dan Papa melakukan sesuatu yang—ehm!" ucapnya lalu berdehem dengan wajah polos.


Alio sangat bersyukur, ia tak melakukan sesuatu yang kelewatan pada Olivia. Kalau tidak, anaknya itu pasti akan mengetahuinya, dan ia pasti akan malu.

__ADS_1


"Itu adalah perilaku yang sangat tak sopan, dan tak menghormati privasi orang lain. Jangan lakukan itu lagi, mengerti?" tegur Alio yang sudah tiba di lantai atas lalu ia mengantar putranya kembali ke kamarnya.


Namun, Olvi dengan serius membela dirinya. "Papa! Sejujurnya, aku nggak sengaja melihatnya! Melakukan sesuatu seperti itu di tempat umum juga perilaku yang nggak sopan!" Jujur, bukannya aku nggak menghormati privasi orang lain, tapi ya—gitu deh."


Alio mengerutkan keningnya, karena ia tak mau memperpanjang masalah, ia pun memerintahkan. "Sekarang saatnya tidur!"


Olvi mendongakkan kepala kecilnya lalu memastikan sekali lagi pada sang ayah. "Papa, aku nggak jadi punya ibu tiri, kan? Papa nggak bohong sama Mama, kan?" tanyanya penuh harapan.


"Ya," jawab Alio sambil menganggukkan kepalanya seperti yang sang putra harapkan.


Olvi tersenyum senang. "Aku tahu, Papa memang yang terbaik!"


Olvi langsung menggelengkan kepalanya karena ia sudah sangat yakin, lalu menjawab, "Setelah kupikir-pikir Papaku adalah pria yang paling tampan diantara semua pria dimuka bumi ini!"


"Baiklah, sekarang sudah waktunya tidur!" ucap Alio lalu tersenyum samar.


...—oOo—...


Tak lama kemudian, Olvi tertidur, setelah itu Alio berjalan kembali kamarnya.

__ADS_1


Pada saat Alio berjalan melewati kamar Olivia, langkah kakinya pun tanpa sadar berhenti.


Apa yang sedang wanita itu lakukan? Apa wanita itu sudah tidur atau seperti diriku yang masih belum bisa tidur? batin Alio yang terlihat gelisah.


Tiba-tiba pintu kamar Olivia pun terbuka, dan sosok wanita itu muncul, di ambang pintu mengenakan piyama putih, rambut panjangnya tergerai hingga bahu.


Aroma segar yang keluar dari dalam kamar Olivia langsung menenangkan hati Alio yang gelisah.


Tampaknya, Olivia juga tak menyangka … kalau Alio juga akan berada di depan kamarnya, ekspresinya terlihat sedikit terkejut.


"Ada apa? Apakah ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Alio memulai pembicaraan terlebih dahulu dan memecahkan keheningan diantara mereka.


— Bersambung —


...***...


...Kalau kalian menyukai cerita ini … jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment dan tambahkan cerita ini ke favorit kalian agar mendapatkan notifikasi updatenya, ya~...


...Support juga penulis dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah, biar semakin semangat, ya!...

__ADS_1


...Thankyou so much and see you next chapter~...


__ADS_2