Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 391


__ADS_3

"Stop!" seru Olivia, yang langsung menghentikan tindakan Alio dengan tegas. membuat Alio menatap Olivia dengan tatapan bingung karena ditolak dan kesal karena ia harus menahan diri.


Tatapan Alio yang tadinya tenang, kini jadi kelihatan seksi dan menggoda.


"Kenapa? Kau tak mau?" tanya Alio, lalu menggigit telinga Olivia dan suara Alio terdengar serak-serak gimana gitu—di telinga Olivia.


Setelah mendengar itu, Olivia pun langsung mengepalkan kedua tangannya, lalu ia sedikit mundur dan menciptakan jarak di antara mereka.


"Aku sangat lapar sekarang. Siang tadi, aku nggak makan apa-apa. Jadi, ayo kita makan malam," jawab Olivia. Nada bicara Olivia terdengar sangat lembut, seperti rayuan.


Alio menatap Olivia dengan tatapan penuh arti. "Aku juga lapar, tapi saat ini aku lebih ingin memakanmu," balasnya, sambil tersenyum nakal.


Olivia tak mengatakan apapun—hanya menggigit bibirnya sambil menatap Alio dengan tatapan sayu.


Tatapan itu membuat Alio merasa seperti binatang, kalau Olivia terus menatapnya seperti itu.


Akhirnya, Alio hanya bisa menghela nafas—walaupun Alio terlihat kesal, tapi apa daya? Alio tidak bisa memaksakan kehendaknya kalau Olivia tidak mau.


Setelah itu, Alio menggigit leher Olivia, dan meninggalkan tanda kepemilikannya, lalu berkata, "saat aku benar-benar menginginkanmu nanti, kau harus siap secara mental."

__ADS_1


Perkataan Alio tak sepenuhnya salah, sudah lima tahun ia menunggu Olivia—menolak semua wanita yang mencoba masuk ke dalam hidupnya, karena wanita yang hanya Alio inginkan adalah Olivia!


Setelah mendengar itu, Olivia sangat terkejut! Dan saking terkejutnya, telinga dan wajahnya langsung memerah.


Alio terpukau, dengan pesona Olivia yang memabukkan—sulit baginya untuk menahan nafsu yang kian memuncak.


Dengan ekspresi tidak bersahabat, Alio bertanya, "kau tak lapar? Bukannya tadi kau bilang, sangat lapar, ya? Kenapa masih diam disini?"


"O-oh? Ini aku baru aja mau memasak," jawab Olivia yang tersadar dari lamunannya.


"Ya sudah, kalau gitu, aku mau mandi dulu," ucap Alio, lalu membalikkan badannya dengan ekspresi suram.


Setelah itu, Olivia menyalakan semua lampu, dan ruangan yang sangat luas itu—menjadi sangat terang. Akan tetapi, tetap saja, tidak bisa menghilangkan kegelapan yang ada di hati Olivia saat ini.


Lalu, Olivia pergi ke dapur untuk memasak. Semua bahan makanan sudah Olivia siapkan sebelumnya, dan nasi juga sudah ia masak.


Jadi, sekarang Olivia hanya perlu menumis beberapa lauk simple yang sangat mudah, Olivia bisa menyelesaikannya dengan sangat cepat. Bahkan, Olivia tidak membutuhkan waktu sampai 10 menit—sampai masakannya selesai.


Olivia meletakkan makanan yang sudah ia masak, ke atas meja makan, lalu menghubungi resepsionis—ia mengikuti arahan resepsionis, dan mengambil kotak P3K—yang ada di lemari di ruang sebelah.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian…


Setelah selesai mandi, Alio yang mengenakan bathrobe— keluar dari kamarnya dan langsung berjalan menuju meja makan.


Aroma masakan Olivia yang harum menguar, dan sensasi ini membuat Alio merasa nyaman, meski dulu Alio sangat menghindari bau asap dan memiliki kecenderungan yang berlebihan terhadap kebersihan.


Namun, kini perubahan dalam diri Alio tak ia anggap aneh lagi, karena belakangan ini banyak hal yang terjadi—tanpa Alio sadari.


Sesampainya di ruang makan—Alio pun melihat hidangan yang tersaji dengan rapi.


Lalu, disamping sendok makan Alio melihat sebuah kotak P3K.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~

__ADS_1


Thank you so much and see you next chapter~


__ADS_2