
Alio membuka matanya dan melirik Olivia, ia melihat dengan jelas rasa malu wanita itu.
"Sini, berikan alkoholnya! Aku akan melakukannya sendiri." Alio menggunakan tekadnya yang kuat untuk membuat dirinya tetap sadar, kemudian ia meraba-raba botol alkohol dengan tangannya yang tak terluka.
Karena itu semua tempat yang disentuhnya menjadi basah.
Melihat itu, Olivia dengan cepat menangkap tangan Alio dan berkata. "Jangan bergerak! Jika lukamu terbuka, maka akan terasa sakit."
Alio mengerutkan bibirnya yang pucat. "Rasa sakit itu bukan apa-apa."
Pria itu bahkan tak bisa mengingat berapa banyak luka yang dimilikinya dan apakah serius atau tidak.
Karena Alio tumbuh di militer, ia mengalami banyak pelatihan kejam dan ia bisa mentolerirnya. Dibandingkan dengan pertempuran sengit dan siksaan, luka ini benar-benar tak ada apa-apanya.
Meskipun Alio mengatakannya dengan santai, Olivia masih merasa cemas dan tertekan.
"Aku bisa membantumu, menurutlah dan jangan bergerak!" Olivia menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur.
Alio mengerutkan kening dan menatap Olivia, wanita itu menyeka kapas dengan alkohol dan dengan hati-hati menyeka leher, bahu, dada yang tak terluka dan terus mengusap dari atas ke bawah.
Ketika jari-jari Olivia turun ke celana Alio, ia bisa merasakan pria itu menatapnya dengan pandangan yang dalam dan rumit.
Pipi Olivia semakin merah, ia meredam perasaannya dengan menggigit bibirnya. "Tutup matamu!"
__ADS_1
Jika Alio terus menatapnya, apakah Olivia akan mati karena merasa malu?
Meskipun mereka pernah melakukan 'hal itu', itu terjadi lima tahun yang lalu. Apalagi Olivia masih menganggap 'hal itu' sebagai mimpi, bahkan saat ini, ia masih tak bisa mengingatnya dengan jelas, jadi…
Tentu saja Olivia akan malu!
Alio samar-samar ada di ingatannya dan bahkan saat Olivia ingin kembali mengingat kejadian itu, ingatannya langsung menjadi kabur.
Tapi, pada saat ini … menurut Olivia wajahnya yang malu-malu dan gugup terlihat sangat jelas di mata Alio.
Sekarang, menurut Alio … Olivia terlihat tak seagresif saat ia baru pertama kali bertemu.
"Kau … takut?" Alio membuka mulutnya, suaranya terdengar tenang tapi menantang.
Entah kenapa Alio merasa kalau Olivia sedikit lucu, pria itu menutup matanya sambil tersenyum samar.
Setelah berperang dengan batinnya sendiri, Olivia memutuskan untuk menyentuh celana Alio dengan tangannya yang bergetar.
Sial!
Tugas apa ini?
"Hati-hati, jangan sampai salah sentuh!" Alio membuka matanya dan memperingati Olivia.
__ADS_1
Wajah Olivia menjadi lebih merah dari sebelumnya, lalu berkata dengan nada malu. "Memangnya kenapa? Aku pernah menyentuhnya sebelumnya."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Olivia menatap mata Alio yang penuh arti dan menjadi kesal karena seharusnya ia tak berkata begitu terang-terangan dan asal-asalan.
Apa yang sudah aku katakan?!
Alio menyipitkan matanya dan ekspresinya tampak ambigu. "Jadi, kau tidak benar-benar tak melupakan rasa sakit lima tahun yang lalu?"
"..."
Wajah Olivia sangat merah karena menahan kesal dan malu.
Jam berapa sekarang? Pria ini masih punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang terjadi lima tahun lalu.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1