
Memikirkan hal itu Olivia menjadi jauh lebih tenang.
Saat Olivia belum mendapat giliran penilaian, handphonenya tiba-tiba berdering.
Nomor asing berkedip-kedip di layarnya.
Olivia tak banyak berpikir dan berjalan pergi untuk mengangkat telepon.
"Kakak."
"Arnold?" Olivia langsung mengenali suara itu.
Tapi ... kenapa Arnold meneleponku?
"Ada apa? aku sudah menonton berita. Syukurlah, Pak Presiden—"
"Kak Olivia, Kakaku terluka parah, kami membutuhkan bantuan kakak! Tolong keluar sekarang, ada mobil yang sedang menunggumu di depan pintu masuk."
"Apa?" kekhawatiran kembali menyerang Olivia. "Bukannya, berita itu dengan jelas mengatakan—"
"Aku tidak bisa memberitahumu lebih detail lewat telepon, tolong jangan beritahu orang lain kalau Kak Alio terluka parah. Tolong cepat kemari, kak!"
Olivia langsung mengangguk mengerti. "Oke, aku paham. Aku akan kesana sekarang!"
Kakakku terluka parah.
Perkataan Arnold memenuhi pikiran Olivia, ia meletakkan handphonenya kembali ke tas dan langsung bergegas keluar.
Rena memperhatikan Olivia dan langsung menghentikannya. "Olivia, kamu mau kemana? Sekarang giliran kita."
__ADS_1
"Aku mau keluar, lanjutkan saja penilaianmu."
"Kamu gila? Berapa lama kamu berjuang dan bekerja keras untuk kesempatan ini? Kementerian Luar Negeri bukanlah tempat di mana orang bisa dipekerjakan dengan mudah.
Sekarang giliran kamu, apakah kamu akan melepaskan kesempatan ini?" Rena menatap Olivia sambil memegang pergelangan tangannya.
"Aku ada urusan yang sangat mendesak." Olivia melepaskan tangan Rena, ia tampak sangat panik.
"Apa yang lebih mendesak daripada penilaian ini?"
Olivia tak bisa menjelaskannya lagi dan langsung bergegas pergi, meninggalkan Rena dengan wajah yang benar-benar kebingungan.
Rena tak bisa melakukan apa-apa lagi selain menghentak kakinya karena kesal.
Saat Olivia bergegas keluar dari gedung kementerian Luar Negeri, sebuah mobil berhenti tepat di depannya.
Olivia merasakan atmosfer berat sepanjang jalan, meski pengemudi itu tak mengatakan apa-apa tapi ekspresinya menjelaskan kepada Olivia bahwa Pak Presiden terluka parah.
Di luar dugaan Olivia, pengemudi itu membawanya ke daerah yang lebih terpencil daripada tempat tinggal Presiden.
Setelah melewati pos-pos keamanan yang tak terhitung jumlahnya, sebuah rumah kecil muncul di depannya.
Namun, di tempat yang sepi dan terpencil, rumah itu sangat mencolok.
Begitu mobil berhenti, Arnold keluar dan menyambut Olivia secara langsung.
Ekspresi Arnold tampak sangat tak baik, meski Olivia hanya sejenak melihat ekspresinya, Olivia tahu pasti ada yang tak beres dengan Alio.
"Bagaimana keadaan Pak Presiden?" Olivia bertanya dengan wajah khawatir.
__ADS_1
"Kakak akan tahu setelah masuk."
Olivia tahu kalau Arnold sedang tertekan, kemudian ia tak bertanya tentang kondisi Alio lagi.
"Apa yang bisa aku bantu sekarang?"
Arnold menjawabnya dengan pertanyaan lain. "Kak Olivia, apakah kamu bisa memasak?"
"Tentu saja."
"Bisakah kamu mengurus hal-hal kecil dari pekerjaan rumah, seperti mencuci pakaian?"
"Ya."
Awalnya, Olivia tak bisa melakukan semua pekerjaan rumah tangga, namun setelah Olvi lahir ia mempelajari semua keterampilan itu secara perlahan-lahan.
Tapi...
Kenapa Arnold mengajukan pertanyaan tak relevan ini padanya?
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1