Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 312


__ADS_3

Olivia tidak bisa melihat dengan jelas layar handphonenya, ia menyentuhkan jarinya di layar untuk waktu yang lama, dan akhirnya menghubungi taksi online.


Telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya terhubung, tapi tak ada suara yang menjawab di seberang sana.


Tanpa ragu, Olivia langsung berbicara. "Halo, saya ingin memesan taksi."


"Kau minum."


Suara rendah seorang pria datang dari seberang sana dan itu terdengar familiar.


Tapi pada saat ini, pikiran Olivia tak karuan. Jadi, ia tak bisa banyak berpikir.


Olivia hanya menganggukkan kepalanya untuk membenarkan. "Hmm"


"Berapa banyak yang kau minum?"


"Saya minum sedikit saja dan saya tidak  mabuk, saya ingin memesan taksi untuk pulang."


Tidak ada yang berbicara lagi.


Olivia mengerutkan kening ia merasa bahwa taksi online tersebut tampaknya memiliki beberapa masalah.


Tiba-tiba, Olivia mendengar suara dari belakangnya. "Olivia, mau ke mana? Aku akan mengantarmu."


Suara itu berasal dari Yuta.


Olivia mundur selangkah tanpa sadar.

__ADS_1


Meskipun masih mabuk, Olivia segera menggelengkan kepalanya dan menjawab. "Terima kasih, tapi tidak perlu. Aku sudah memesan taksi."


Bahkan jika Olivia sadarpun, ia tak ingin berbicara dengan mereka lagi. 


Sekarang Olivia hanya ingin menjaga jarak dari pria itu.


Melihat Olivia menghindar, Yuta merasa kesakitan di hatinya. "Maaf, aku tidak bermaksud untuk menarikmu ke dalam masalah ini," ucap Yuta.


Olivia mengangkat tangannya dan melambaikan tangan, menunjukkan bahwa ia tak ingin membahas masalah itu lagi.


"Biarkan aku mengantarmu pulang, aku ingin menebus kesalahanku," tawar Yuta.


"Om, kamu juga minum. Om tidak bisa mengemudi setelah minum," ingat Olvi.


Di telepon, ada seseorang yang telah mendengarkan percakapan mereka dan kemudian berbicara lagi dengan nada suara yang sangat dingin. "Di mana kamu berada?"


"Baiklah, jemput saya disini."


"Tapi di mana kamu sekarang?" tanya orang di seberang sana mulai kehilangan kesabaran


Olivia mengerutkan kening dengan kesal. "Kenapa sikap Anda sangat buruk? Saya bisa melaporkan ini!"


Seseorang di seberang telepon hanya diam, kemudian menghela nafas dan bertanya. "Boleh saya tahu di mana posisi Anda sekarang, Nona?"


Olivia hanya ingin cepat pulang dan beristirahat di tempat tidurnya yang nyaman karena ia merasa pusing. Oleh karena itu, ia tak terlalu banyak berbicara dan menjawab. "Saya di sini bersama ayah saya sekarang."


"Apakah itu alamat?"

__ADS_1


Olivia hanya memberikan tiga kata sebagai alamat. Setelah itu, seseorang di seberang telepon langsung menutupnya.


Olivia merasa bingung dan tanpa sadar memegang Olvi, bersandar di pilar, menunggu taksi datang.


Tiba-tiba, Olivia teringat bahwa ia tak memberikan alamat yang jelas ketika di telepon. Olivia hanya menyebutkan bahwa ia bersama ayahnya.


Apakah si sopir taksi tahu siapa ayahnya dan di mana ia berada? Olivia merasa kesal dengan dirinya sendiri.


Sangat bodoh!


Olivia benar- benar merasa dirinya bodoh karena telah memberikan alamat yang tak jelas di telepon.


Wanita itu menunggu di tempat yang sepi sementara Yuta juga masih ada di sana.


Olvi, anak kecil yang Olivia bawa, menatap Yuta dan bertanya. "Om, kenapa masih di sini?"


"Tadi kamu bilang aku tidak boleh mengemudi setelah minum," jawab Yuta sambil menyentuh kepala Olvi dengan lembut.


Kemudian, Yuta melirik ke arah Olivia yang masih pusing dan menunggu dengan mata tertutup hingga tak menyadari keberadaan Yuta di dekatnya.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~

__ADS_1


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2