Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 110


__ADS_3

Pengakuan pria itu benar-benar di luar dugaan dan Olivia tampak sangat terkejut.


Bagaimanapun, Yuta dulunya adalah pria yang sangat berkesan bagi Olivia


Namun…


"Maaf, Yuta…," Olivia menggigit bibirnya dan menolak. "Pikiranku sangat kacau sekarang, aku bingung, aku tidak ingin memikirkan itu."


Olivia bisa melihat rasa sakit, sedih dan frustasi di mata Yuta.


Yuta menatap Olivia dengan kecewa, lalu tiba-tiba pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan untuk memberi Olivia ciuman.


Merasakan panas di bibirnya, Olivia syok dan matanya melebar, ia tanpa sadar mendorong Yuta menjauh.


Namun, saat tangan Olivia menyentuh dada Yuta, pria itu melangkah mundur seperti seorang gentleman dan melepaskan Olivia.


"Jangan marah…," Yuta menatap Olivia dengan ekspresi sedih di wajahnya. Lalu, pria itu tersenyum pahit, "aku hanya ingin lebih dekat denganmu daripada Lucas."


Setalah mengatakan kalimat itu Yuta melangkah pergi meninggalkan Olivia.


Pikiran Olivia menjadi kosong untuk sementara waktu, saat ia sadar dari keterkejutannya dan ingin beranjak pergi, ia tiba-tiba merasakan tatapan dingin tertuju padanya.


Olivia menoleh dan menemukan sosok itu, ia terkejut saat mengenali siapa orang itu.


Alio bersandar di dinding yang tak jauh dari Olivia, dalam diam, pria itu memegang rokok yang menyala di antara jari-jarinya.

__ADS_1


Pria itu tampak lebih dingin dan arogan diantara asap rokok.


Kenapa Pak Presiden ada di sini?


Dan…


Apakah Pak Presiden mendengar atau melihat Yuta menciumku barusan?


Memikirkan hal itu, Olivia merasa bersalah. Lalu, ia pikir itu konyol! Semua ini tak ada hubungannya dengan Alio, mengapa Olivia harus merasa bersalah?


"Pak Presiden." Olivia hanya menyapa dengan suara rendah tanpa kata-kata lain dan perlahan berjalan pergi.


Olivia menjauh dari Alio seolah-olah mereka hanya orang asing.


Ketika Olivia lewat, Alio tiba-tiba menangkapnya.


Pria itu memegang Olivia dengan sangat erat seolah-olah ia akan menghancurkan tulang-tulangnya.


Olivia terkejut.


Apa yang terjadi hari ini?


Yang terakhir adalah Yuta, sekarang Alio juga ikut-ikutan!


Selain itu, sekarang mereka saling menarik dan mendorong satu sama lain di luar toilet, jika seseorang melihat mereka...

__ADS_1


Tanpa ragu-ragu, Alio menyeret Olivia ke toilet pria.


Pria itu sangat kuat dan langkahnya besar, dengan sepatu hak tinggi, Olivia hampir tak bisa mengimbanginya dan langkahnya terseok-seok.


"Tunggu! Ini toilet pria, aku tidak mau pergi!" Olivia meronta.


Alio menarik Olivia dan langsung membanting pintu, tanpa ekspresi apapun, pria itu membuka keran putih di sampingnya, membasahi sapu tangan yang dikeluarkan dari saku jasnya dan menggosok bibir Olivia dengan keras.


Perlakuan Alio yang kasar tak menunjukkan belas kasihan sedikitpun pada Olivia.


Olivia hanya merasa bibirnya jadi keram karena digosok pria di hadapannya.


"Pak Presiden … apa yang Anda lakukan?" Olivia ingin mendorong tangan Alio dan alisnya yang cantik tampak berkerut. "Ini … menyakitkan," lirihnya.


Alio tiba-tiba merasa kesal, ia melempar sapu tangan sutra itu ke atas meja.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~

__ADS_1


__ADS_2