
Alio tersenyum, lalu mengambil selembar band-aid bergambar kartun dari kotak P3K. Tanpa pikir panjang, Alio menempelkan band-aid tersebut pada luka yang ada di wajahnya.
Alio merasa lucu saat melihat band-aid bergambar kartun itu menempel di wajahnya dan merasa sangat puas saat melihat hasilnya di cermin yang ada di belakangnya. Bahkan, Alio berpikir kalau penampilannya saat ini, terlihat cukup keren?
Melihat hidangan-hidangan lezat yang tersaji di atas meja makan—Alio merasa sangat lapar sekarang.
Tanpa ragu, Alio mengambil sendok, lalu ia mencicipi beberapa suap. Rasa puas yang tak tergambarkan mengisi hatinya. Namun…
Saat Alio terus makan, waktu berlalu. Satu menit … dua menit, dan setelah lima menit … tiba-tiba Alio merasa ada yang tidak beres.
Kenapa Alio tak mendengar suara Olivia sama sekali?
"Olivia?" panggil Alio dengan suara lantang, tetapi tidak ada respon dari Olivia.
"Olivia!" panggil Alio sekali lagi sembari mengernyitkan alisnya heran. Namun, ruangan tersebut tetap sunyi tanpa respons.
Alio meletakkan sendoknya, lalu ia bangkit menuju dapur. Namun, sesampainya disana, dapur terlihat kosong dan tak ada seorang pun disana!
__ADS_1
Ekspresi wajah Alio langsung berubah dingin, lalu ia mengambil handphonenya dari meja makan, lalu menempelkannya di telinganya dan menelepon seseorang.
...—oOo—...
Di sisi lain, Olivia melangkah keluar dari King Hotel seorang diri dan saat angin dingin berhembus, ia semakin merapatkan jaketnya.
Pelayanan di King Hotel sangat luar biasa—begitu Olivia sampai di depan pintu masuk hotel, mobil mewah hotel sudah menunggunya di depan sana.
"Halo, tamu yang terhormat, apakah Anda membutuhkan layanan mobil?" tanya sang supir kepada Olivia.
Setelah itu, Olivia langsung menyebutkan alamatnya dan masuk ke dalam mobil tersebut.
Tiba-tiba, handphone Olivia berdering. Olivia yang kaget langsung mengambil handphonenya dari saku jaketnya.
Di layar handphone Olivia, tertera nama si penelpon, yaitu 'Calon Suami'. Lalu, Olivia pun mengatur emosinya, agar mood-nya menjadi lebih baik sebelum mengangkat telepon dari Alio, lalu menempelkannya ke telinga.
"Kau dimana sekarang!?" tanya Alio dari seberang telepon—suaranya terdengar sangat kesal.
__ADS_1
"Aku lagi dalam perjalanan pulang," jawab Olivia sesantai mungkin, saat Olivia menghadapi kemarahan Alio.
"Turun sekarang juga! Aku akan suruh orang untuk menjemputmu!" titah Alio dengan nada marah.
Olivia tahu, kalau Alio itu orangnya sangat keras kepala dan ia sudah menduga, kalau Alio akan berkata seperti itu.
Dengan santainya, Olivia berkata, "Aku mau jemput Olvi, buat nginep bareng di hotel satu malam. Meskipun anak itu nggak tau apa-apa, tapi beberapa hari ini dia terus nanya-nanya soal kamu. Kamu keberatan nggak kalo aku bawa dia? Kalo kamu keberatan, ya sudah aku nggak jadi jemput Olvi dan menyuruh supir untuk berhenti sekarang."
Olivia sebenarnya punya niat yang egois. Kalau bisa, Olivia mau bilang ke Alio, agar Alio jangan menikah dengan Angela Scarlett.
Namun, apa daya? Olivia bahkan tak mampu mengatakan apapun pada Alio dan hanya berpikir, kalau momen keluarga kecil mereka berkumpul bersama, takkan terulang lagi setelah Alio menikah.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~