Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 200


__ADS_3

"Baik, saya akan melakukannya sekarang," jawab Sebas cepat.


Olivia berdiri di dekat jendela dan menyaksikan taksinya menghilang sebelum ia turun dengan barang bawaannya.


"Nyonya, saya benar-benar minta maaf, sup Anda—," ucap Sebas ragu-ragu dan merasa bersalah.


"Saya sudah mendengarnya di lantai atas, tidak apa-apa, saya akan pergi dan membelinya di luar," balas Olivia menggelengkan kepalanya dan menghibur Sebas. 


Sebas menghela nafas dan memperhatikan koper besar yang dibawa Olivia, ia sedikit terkejut. "Nyonya, Anda—"


"Aku mungkin tidak akan pulang kesini cukup lama."


Tidak heran Pak Presiden sedang dalam suasana hati yang buruk, batin Sebas.


"Tuan muda akan sedih jika dia tahu Nyonya tidak ada di rumah untuk waktu yang lama," ucap Sebas mencoba menahan Olivia dan meminta wanita itu memikirkan keputusannya lagi.


"Aku akan menjelaskan padanya nanti," balas Olivia membuat Sebas tak bisa berbuat apa-apa.


Sekarang tugas Olivia yang paling penting adalah menemukan tempat tinggal, setelah itu ... ia akan bernegosiasi dengan Alio tentang putra mereka dan membuat kesepakatan terakhir, meskipun ia tahu bahwa ia tak memiliki keuntungan dalam masalah ini.


...—oOo—...


Yuta masih di ruang operasi ketika Olivia kembali ke rumah sakit, ia meninggalkan kopernya di ruangan Yuta dan menemani orang tua Yuta menunggu di luar ruang operasi dengan tenang.

__ADS_1


Olivia, jika kau benar-benar tidak sabar ingin pergi, keluarlah! Jangan pernah pulang lagi!


Tidak seorang pun di keluarga ini yang menyukaimu kecuali Olvi.


Perkataan Alio tadi masih melekat di benak Olivia, wanita itu menatap kosong ke arah lantai dan matanya tampak hampa.


"Olivia? Olivia."


Tiba-tiba Olivia tersadar dari pikirannya saat ibu Yuta yang duduk di sampingnya memanggilnya dua kali.


"Hah?" jawab Olivia bingung.


Orang tua Yuta sudah berdiri. "Yuta sudah keluar!"


"Terima kasih, Tuhan!" ucap ibu Yuta sangat bahagia dan hampir tersungkur.


"Terima kasih, dokter, terima kasih banyak!" sambung Ayah Yuta berjabat tangan dengan Dokter dan berterima kasih padanya.


Berdiri sejauh beberapa meter dari orang tua Yuta, Olivia menghela nafas lega, ia akhirnya bisa tenang karena Yuta baik-baik saja.


...—oOo—...


Rena baru pulang berkerja saat sudah lewat jam 9 malam. 

__ADS_1


Wanita itu menekan pin untuk membuka pintu apartemennya dan lampu di atas kepalanya secara otomatis menyala karena sudah terbuka, saat itu Rena melihat seseorang wanita berjongkok di dekat pintunya yang membuatnya sangat terkejut.


"Olivia? Apa kau ingin membuatku terkejut sampai mati, hah?!"


Olivia bangkit dan menepuk-nepuk debu di celananya. "Jika kamu tidak pulang, aku akan mati kedinginan."


"Kenapa tidak menelponku? Sudah berapa lama kamu di sini?"


"tidak terlalu lama, sih."


Kemudian, Rena membuka pintu dan membiarkan Olivia masuk.


Melihat koper besar yang dibawa Olivia, Rena tak bisa menahan diri untuk bertanya. "Apa yang terjadi?"


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~

__ADS_1


__ADS_2