
"Aku tidak lahir dalam situasi keluarga yang baik. Meskipun nenek selalu memanjakanku, tetapi dia juga merasa sangat kecewa padaku. Ayahku sangat frustrasi karena banyak masalah pada waktu itu, terlebih lagi ketika kedua orangtuaku bercerai. Karena ibuku pergi, aku tidak punya pilihan selain mengurus dan mengatur pekerjaan rumah. Aku melakukannya karena itu adalah fondasi yang harus kulakukan pada waktu itu. Kemudian, semakin lama aku terbiasa dan semakin trampil, terutama setelah Olvi lahir dan aku harus melakukannya sendiri."
Olivia jarang menceritakan hal-hal yang terjadi padanya kepada orang lain di masa lalu. Namun, ketika ia berbicara dengan Alio, ia merasa dihargai dan beban dihatinya sedikit berkurang.
Alio melihat beberapa foto yang terpajang di ruang tengah. "Apakah wanita yang ada di dalam foto itu ibumu?" tanyanya pada Olivia.
Olivia berbalik dan mengamati foto yang ditunjukkannya. "Iya, itu ibuku," jawabnya.
"Aku belum pernah mendengar cerita tentang mereka sebelumnya. Mengapa wajah ibumu di foto itu sobek?" tanya Alio lagi.
Sambil merenungkan foto yang terlihat sobek, Olivia tampak terpana. "Ibuku dan ayahku sudah bercerai bertahun-tahun yang lalu dan mereka sudah memiliki kehidupan baru. Aku mendengar bahwa mereka baik-baik saja, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi, foto terakhir ibuku yang kupunya di sobek oleh ayahku," jelasnya dengan nada sedih.
Alio mempertimbangkan kata-kata Olivia dengan serius.
Sementara itu, Olivia mengangguk dengan tenang ketika menceritakan kisahnya. "Setelah Ibuku menikah lagi, Ayahku tidak mengizinkannya untuk menemuiku dan memblokir semua kemungkinan kontak kami. Ketika akhirnya aku sudah cukup dewasa untuk mencarinya, aku tidak berani melakukannya ... Aku takut menghancurkan hidup barunya."
__ADS_1
Alio merasakan suasana sedih yang menyelimuti Olivia. Tatapannya sangat menyedihkan, menggambarkan keinginan untuk memeluk dan menghiburnya.
Namun, pada akhirnya, Alio hanya mengangguk pelan dan tidak mengeluarkan kata-kata apapun.
Terlihat bahwa selama lebih dari dua puluh tahun, hidup Olivia tak berjalan dengan baik.
Matanya melembut dan Alio terus mengobrol dengan Olivia secara santai seperti yang diharapkannya. Alio ingin tahu lebih banyak tentang Olivia. "Kamu dan orangtuamu tidak terlihat sangat mirip satu sama lain. Malah lebih mirip... "
"Julia."
Olivia ingat terakhir kali Alio menakuti Julia di kediaman Presiden. Mengingat hal itu, Olivia tak bisa menahan tawanya.
"Apa yang lucu?" tanya Alio sambil menatap Olivia.
Olivia tersenyum dan menggelengkan kepalanya, lalu melirik ke arah mangkuk mie Alio. "Bukan apa-apa," ucapnya. "Kamu makan dengan lahap padahal sudah larut malam. Kamu terlihat sangat lelah, sekarang sudah hampir jam 12. Apakah kamu tidak pulang?"
__ADS_1
Singkatnya, Olivia seperti mengusir Alio secara halus dan wajah Alio tiba-tiba berubah. Meski Olivia tak tahu bagaimana ia menyinggung perasaan Alio, pria itu selalu memiliki ekspresi yang berbeda-beda.
Setelah tak ada sisa makanan, secara otomatis Alio berdiri dan Olivia membawa mangkuk mie Alio ke dapur untuk dicuci.
Olivia dapat merasakan sorot mata yang tajam dari Alio, membuatnya tak berani mendesak pria itu lagi.
Ketika Olivia mencuci piring, ia mendengar Alio menelepon di luar dan terdengar dari pembicaraan teleponnya bahwa Alio harus pulang karena sudah tengah malam.
Olivia khawatir dengan keselamatan Alio, yang harus kembali ke kediaman Presiden seorang diri.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
__ADS_1
Thankyou so much and see you next part~