
"Kenapa sangat lama kau mengangkat telpon, apa tadi kau sedang tidur?"
Suara Alio datang dari seberang sana, Olivia merasa jauh di mata namun dekat di hati, mendengarkan suaranya saja ada sebuah kerinduan yang tak bisa di jelaskan.
Mereka sudah saling kenal cukup lama, Alio sering bepergian ke luar negri, tapi ini adalah pertama kalinya Alio menelpon Olivia ketika pria itu berada di luar negeri.
Olivia menggelengkan kepalanya, ia menatap TV dan menjawab. "Tidak, aku sedang menonton Berita tv nasional."
"Berita?" ucap Alio lalu tersenyum dan menguji Olivia. "Seingatku kau tidak suka menonton berita."
Olivia merasa malu, pertanyaan Alio akan mengekspos dirinya. "Aku memang tidak suka menonton berita, tapi Olvi memaksaku untuk menonton bersamanya."
"Benarkah?"
Lagi-lagi Alio di buat tersenyum, ia mengekspos Olivia tanpa ampun.
"Y- ya, tadi maid memberitahuku kalau Olvi sudah tidur," jawab Olivia ragu.
Semakin Olivia menjelaskan, semakin Olivia malu karena terdengar seperti mencari-cari alasan.
Olivia menjadi sangat kesal karena memilih alasan yang bodoh dan penjelasannya tampak tak berguna, sehingga ia memutuskan untuk diam ketika Alio terus berbicara di telepon.
Setelah di pikir-pikir, Alio adalah satu-satunya orang yang bisa mengendalikan segalanya.
Jadi, Olivia tak bisa menyembunyikan apapun dari pria itu.
"Kau tidurlah, ini hampir tengah malam, jangan begadang!"
__ADS_1
Untungnya, Alio tak terus mengolok-oloknya.
"Oke." Olivia mengerutkan bibirnya.
Olivia mengela nafas panjang, ia merasa masih merindukan suara Alio dan masih ingin berlama-lama berbicara dengannya.
Masih banyak pertanyaan dalam pikiran Olivia, bagaimana kabar pria itu? Disana jam berapa sekarang?
Tapi Olivia berhenti, lebih baik sadar diri, batinnya.
"Ada apa?" Alio sepertinya merasakan sesuatu yang aneh dengan suasana hati Olivia.
Olivia memalingkan wajahnya dari tv dan melihat asal ke langit ruangan. "Kalo begitu kamu tutup dulu telponnya."
Suara lembut Olivia di malam hari, membuat suasana hati Alio lebih baik dan bersemangat, pria itu bahkan tersenyum dan nada suara Alio menjadi lebih ambigu. "Tunggu aku, kita harus menyelesaikan apa yang belum kita lakukan malam itu."
Olivia diam-diam tersipu malu. "Aku akan menutupnya sekarang."
Selama beberapa lama, jantungnya masih berdetak kencang.
Olivia melemparkan handphonenya dan bersandar di sofa, Olivia melihat nama 'Suami masa depan' di layar handphonenya, perasaan yang kompleks dan tak bisa di jelaskan muncul di hatinya.
...—oOo—...
Keesokan harinya...
__ADS_1
Olivia pergi bekerja seperti biasa, Alio belum pulang, jadi ia menemani Olvi tinggal di kediaman Presiden.
Olvi terus membicarakan Alio akhir-akhir ini, anak itu selalu merindukan Papanya dan bahkan sangat merindukannya.
Mereka selalu melihat Alio di berita tv nasional dan Alio terlihat baik-baik saja.
Olvi pernah menelpon Alio karena sangat rindu, namun Alio sangat sibuk di sana sehingga Alio hanya bisa tidur selama dua jam sehari.
Karena tak ada yang menjawab telepon Olvi, anak itu menjadi sedikit kecewa.
Tak lama kemudian Olvi di telpon oleh Arnold, Arnold berkata kalau Alio sangat sibuk.
Alio terus menghadiri acara proyek pembangunan selama 36 jam dan Alio sedang tidur sekarang.
Sejak saat itulah, Olivia tak mengizinkan sang putra untuk menelepon dan menganggu Alio tanpa alasan.
...—oOo—...
Tujuh hari kemudian...
Perbedaan zona waktu membuat komunikasi mereka jadi lebih jarang.
Sebagian besar panggilan telepon Alio dijawab oleh sebas yang mengatakan kalau mereka sedang tidur.
— Bersambung —
***
__ADS_1
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
Thankyou so much and see you next part~