Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 308


__ADS_3

Arnold merasa canggung di hatinya. Seharusnya ia memberikan alasan lain daripada jujur.


Namun, Arnold merasa bersalah dan mengumpulkan keberanian untuk berkata lagi. "Kak Olivia mengucapkan selamat atas pertunangan Kakak dengan Angela Scarlett."


Usai mengatakan itu, terdengar suara GEDUBRAK! Saat iPad yang dipegang Alio dilemparnya ke samping dan menabrak dinding.


Ruangan mobil terasa dingin bahkan membeku dan oksigen di dalamnya tiba-tiba terasa menipis.


Emosi yang di tunjukkan Alio membuat Arnold gemetar ketakutan.


Aduh, Kakak pasti marah besar. Habislah aku! pikir Arnold dalam hati.


...—oOo—...


Saat acara makan malam keluarga, Olivia membawa anaknya, Olvi, bersamanya. Meski Olivia hamil dan memiliki anak, sang nenek tak puas dengan keputusan Olivia. Namun, Olvi masih menyukai sang nenek.


 


Bagaimanapun, Olvi adalah anak yang lucu dan darah keluarga Stein tetap mengalir dalam dirinya. Ketika sedang makan, sang nenek memberi Olvi banyak lauk dan Olvi menikmati makanannya tanpa sungkan.


"Tuhan telah memberikan kesempatan padaku untuk hidup lebih lama, Tuhan memberkati keluarga Stein. Mari bersulang," ucap Tuan Stein mengangkat gelasnya dan sangat bahagia.

__ADS_1


Julia buru-buru menuangkan wine untuk Yuta yang duduk di sampingnya. 


Keluarga itu mengangkat segelas anggur dan Olvi segera turun dari kursi, memegang cangkir susu kecil untuk bersulang dengan orang dewasa, tapi anak itu memiliki tangan pendek dan kaki pendek, sehingga Olvi bahkan tak bisa ikut bersulang. 


Yuta tersenyum, membungkuk dan bersulang dengan Olvi. 


Olvi balas tersenyum. "Terima kasih, Om Yuta."


Bocah kecil itu mengundang senyum di wajah Yuta. 


Julia tampak sangat bahagia, tapi tak dengan kenyataannya. "Keponakan kecilku pandai bicara manis," ucapnya.


Olivia hanya menatap ke atas dan meminum anggur tanpa menyadari perhatian Yuta.


 Olivia hanya melihat ke atas dan minum anggur tanpa sadar di perhatikan oleh Yuta.


Olivier Stein dalam suasana hati yang baik hari ini, meski telah banyak meminum alkohol. Jesi khawatir karena suaminya tak bisa menahan minum terlalu banyak, namun upayanya membujuk sang suami untuk mengurangi minuman tak dihiraukan.


Sayangnya, Oliver Stein tak mengindahkannya.


Minum alkohol berlebihan sangat berbahaya bagi Olivia, namun ia tetap melakukannya bersama sang ayah dan mulai kehilangan kesadaran.

__ADS_1


Yuta tampak seperti sedang dipenuhi banyak pikiran. Sepanjang malam, pria itu duduk di meja makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sambil turut meminum banyak alkohol.


"Baiklah, sudah cukup bagi kalian bertiga! Aku telah membiarkan kalian minum terlalu banyak wine hari ini," ucap sang nenek sambil meraih cangkir dari tangan Oliver Stein. "Kamu sakit dan tidak boleh minum lagi!"


Julia terkejut mendengarnya dan mencoba mengambil gelas anggur dari tangan Yuta. "Jadi, kami bertiga tidak diizinkan minum lagi, ya?" ujarnya dengan nada kecewa.


Olvi memandang cemas pada wanita dengan wajah memerah di sebelahnya, menghela nafas dan mengambil pelajaran dari perilaku orang dewasa dengan santai ketika mengambil gelas anggur milik Olivia.


Anak itu membujuk Olivia dengan lembut. "Mama, tidak ada yang boleh minum lagi, termasuk Mama. Kita harus bersikap baik dan patuh pada peraturan."


"Biarkan saja Mamamu minum," ucap Julia dengan senyum lembut dan suara yang lembut. "Mungkin belakangan ini, Mamamu merasa sangat sedih sehingga ia minum banyak. Tapi, sayangnya itu bukan cara yang tepat untuk mengatasi masalah. Kamu tahu kan, bocah kecil? Bahwa minum wine dalam jumlah banyak tak akan membantu menghilangkan kekhawatirannya."


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~

__ADS_1


__ADS_2