Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 225


__ADS_3

Alio mengangkat dagu Olivia. 


"Oke? Jika kau ingin kabur dari rumah dan meninggalkanku, kau bisa melakukannya. Tapi, aku tidak akan membiarkan putraku mengikutimu. "


Olivia terdiam. "Kau yang menyuruhku keluar dari sini! Bagaimana bisa aku yang kabur dari rumah dan meninggalkanmu?"


Alio meletakkan satu tangannya di pinggang Olivia dan tangan satunya menempel di kulkas. 


Olivia terjebak di antara Alio dan kulkas, pria itu menatapnya dengan tatapan tajam dan dalam.


Alio semakin dekat, bibir pria itu sangat dekat dengan bibir Olivia. "Jadi kau meninggalkanku karena aku berkata begitu? Kenapa kau bisa sangat penurut?"


Menatap mata Alio dalam jarak sedekat itu, Olivia bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. 


Mata yang memikat dan nafas yang panas itu berbahaya! 


Olivia tentu tahu harga yang akan dibayar jika ia melangkah lebih dekat dengan pria itu, ia memberanikan dirinya untuk menjawab.


"Ini rumahmu, semua orang di sini di bawah kendalimu, kamu adalah Presiden dan jika kamu ingin aku pergi, tidak ada alasan bagiku untuk tetap tinggal disini."


Mungkin karena jarak yang membuat Olivia hampir tak bisa berbicara. 

__ADS_1


Tubuh wanita itu bersandar di kulkas dengan canggung, tapi Alio tak bisa membiarkan Olivia pergi begitu saja. 


Alio melangkah lebih dekat dengan wanita itu, lalu bertanya dengan cara yang lembut dan pelan. "Bagaimana jika aku memintamu untuk tetap tinggal di sini?


Jika Olivia gila, jika Lucas tak mengatakan yang sebenarnya atau jika Olivia tak melihat undangan merah itu, Olivia akan menjawab ya.


Tarikan napas dalam selalu membantu Olivia untuk tenang, keraguan di matanya menghilang, wanita itu mendongak. "Bisakah aku membawa Olvi pergi?"


Keduanya terdiam di dapur sampai kata-kata itu keluar. 


Alio tak bisa mempercayai telinganya. "Katakan lagi!"


"Dia anakku dan aku berhak membawanya pergi."


Setiap kata pria itu terdengar dingin, ia melepaskan tangannya dari pinggang Olivia. 


Alio tampak lebih acuh tak acuh dan lebih dingin daripada beberapa menit yang lalu.


Alio pikir, ia sudah membuatnya cukup jelas, ia meminta Olivia untuk kembali ke mansion. 


Tapi wanita itu mengabaikan perkataannya dan bahkan meminta untuk membawa Olvi pergi.

__ADS_1


"Pak Presiden!" ucap Olivia menarik Alio kembali saat pria itu beranjak pergi. 


Dengan dingin Alio menatap Olivia, seolah-olah seluruh kesuraman ada di matanya. 


"Setidaknya biarkan Olvi tinggal bersamaku sampai anak itu berusia 18 tahun, ya?"


Cara Olivia memandang Alio adalah siksaan.


"Aku tidak pernah memohon padamu sampai seperti ini. Tapi kali ini, kumohon."


Olivia menatap langsung ke mata Alio dan mengabaikan tatapan dingin pria itu. "Saat hamil Olvi, aku baru berusia 18 tahun, aku tidak bisa melupakan perjuanganku dan semua hal sulit yang kulalui bersamanya, aku tidak bisa hidup tanpanya. Tapi kamu tidak sepertiku, seluruh negara dan bahkan seluruh dunia adalah milikmu. Dan ... dan kamu akan segera menikah! Kamu bisa punya anak lagi dengan istrimu."


Alio tak mengatakan apa-apa, pria itu hanya mendengarkan.


Suara Olivia bergetar. "Tapi ... Olvi sangat berarti bagiku, dia adalah duniaku, hidupku tidak berarti tanpa dia. Jadi aku mohon, jangan mengambil dia dariku sampai usianya 18 tahun. Kamu bisa bertemu dengannya kapan saja kamu mau, aku berjanji ... atau dia bisa menginap di sini bersamamu selama beberapa hari atau dia bisa merayakan setiap ulang tahun bersamamu."


Ketika Olivia selesai berbicara, tatapan Alio semakin dingin seperti es.


— Bersambung —


***

__ADS_1


Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)


Thankyou so much and see you next part~


__ADS_2