
Olivia ingin menjauh darinya karena takut pria itu tertular.
"Sudah terlambat untuk menjauhiku sekarang. Jangan khawatir! Kamu lihat, aku baik-baik saja sekarang, kan?" Yuta menuntun Olivia ke sofa. "Duduklah! Aku akan mengukur suhu tubuhmu dengan termometer. "
"Tidak perlu," balas Olivia cepat dengan bibir kering dan pucat.
Sambil meletakkan tangannya di sofa, Olivia melanjutkan dengan terus terang. "Sebaiknya aku pergi dari sini dan mencari hotel untuk tempat tinggal sementara."
Yuta masih ingin Olivia tetap disini, tapi wanita itu bersikeras ingin pergi dan pria itu tak bisa membujuknya.
"Tunggu aku, aku akan mengambil kunci mobil dan mengantarmu," ucap Yuta pergi ke kamarnya.
Olivia tak ingin merepotkan Yuta atau membuatnya tertular , jadi ia mengambil barang-barangnya dan pergi ke pintu tanpa menunggu pria itu.
Namun, pintu dibuka oleh seseorang dari luar dengan pin saat tangan Olivia baru saja menyentuh gagang pintu.
Saat Olivia melihat tamu itu, ia membeku sesaat.
Tamu itu juga terdiam.
Siapa lagi kalau bukan … Julia Stein!
Saat Julia menyadari kalau yang dilihatnya bukan halusinasi, wanita itu berteriak. "Olivia, sedang apa kau di sini?! Di apartemen tunanganku!"
"..."
__ADS_1
Olivia mencoba menjelaskan, tapi tenggorokannya kering dan ia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun, jadi ia hanya berjalan melewati saudari tirinya.
Tapi, wajah Julia sudah menjadi merah karena marah, wanita itu segera menghentikan Olivia dan mengangkat tangannya untuk menampar wanita itu dengan keras.
PLAK!
Olivia mencoba menghindar tapi gagal, karena ia terlalu lemah sekarang.
Wajah Olivia langsung menjadi merah dan bengkak dengan lima sidik jari yang terlihat.
Setelah mendapatkan tamparan dari Julia, Olivia menjadi lebih pusing dan pikirannya kemana-mana.
"Julia, apa yang kamu lakukan?"
Yuta langsung melihat adegan itu saat ia baru datang, pria itu mengerutkan kening dan memegang Olivia dengan tangannya.
Olivia berusaha keras untuk terlepas dari pelukan Yuta, tapi pria itu tak mau melepaskannya.
Yuta menatap Julia dengan kecewa. "Julia, Olivia adalah kakak perempuanmu. Bagaimana kamu bisa menamparnya? "
"Kak Yuta, kenapa kamu selalu membelanya? Tidak bisakah kamu melihat kalau dia punya niat terselubung padamu?"
Yuta tersenyum pahit, ia benar-benar berharap kalau Olivia sungguh mempunyai niat terselubung padanya.
Namun…
__ADS_1
Yuta adalah orang yang mempunyai niat terselubung.
"Tunggu aku di luar, aku akan berbicara denganmu nanti!" ucap Yuta membuka pintu untuk mengusir Julia.
Setelah itu, Yuta mengangkat Olivia yang pusing dengan lengannya dan berjalan masuk.
"Kak Yuta, Berhenti! Aku tidak mengizinkanmu pergi!'' pekik Julia menarik Yuta dan api kecemburuan di wajahnya membara.
Mereka bertiga tak memperhatikan situasi di luar pintu, dimana seseorang mengambil foto mereka pada saat ini.
...—oOo—...
"Kami sudah menemukan Kak Olivia." Arnold pergi ke kediaman Presiden dan melapor kepada Kakaknya dengan hati-hati.
"Di mana dia?" balas Alio sambil berdiri di samping mejanya.
"Kakak bisa melihat ini," ucap Arnold tak berani berbicara lebih banyak dan hanya menyerahkan handphonenya. "Salah satu dari orang-orangku baru saja mengirimkan ini kepadaku," lanjutnya kemudian.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
__ADS_1
Thankyou so much and see you next chapter~