
Olvi tak dihukum oleh Alio, meskipun anak itu menemani Olivia, tapi wanita itu tetap merasa aneh dan hampa, seperti rasa kehilangan sesuatu.
Di malam hari, sambil berbaring di tempat tidur, Olivia selalu memikirkan pelukan hangat Alio. Tapi…
Tapi Olivia tahu itu sesuatu yang bukan miliknya dan ia tahu persis bahwa keserakahannya akan menghancurkannya suatu hari nanti.
Pada hari Jumat, Olvi datang lagi ke apartemen Olivia, karena weekend, anak itu tak pergi ke sekolah, jadi Olivia membawanya keluar untuk mengunjungi pasar malam.
Pasar malam di daerah ini terkenal di seluruh negeri dan tak hanya didatangi oleh penduduk setempat, tapi juga turis. Karena hari ini Jumat, banyak orang yang datang ke sini dan suasana sangat ramai. Olvi sangat menikmati suasana ini dan merasa bahagia ketika berada di sini.
"Mama, bolehkah kita bergandengan tangan? Aku ingin melindungi Mama di tengah keramaian ini!" ucap Olvi dengan penuh semangat.
Setelah mengatakan itu, Olvi meletakkan tangannya yang lembut di atas telapak tangan sang ibu. "Mama, kita akan datang kembali bersama Papa suatu saat nanti, kan?" tanyanya sambil menikmati gulali dan menatap Olivia dengan mata berbinar.
Sementara itu, Olivia tersenyum hangat dan melihat kerumunan orang yang ramai di sekitar mereka, lalu menggelengkan kepalanya. "Tempat ini mungkin tidak cocok untuk Papamu," katanya dengan lembut.
Belakangan ini, Alio pasti sangat sibuk. Untuk waktu yang lama, tak ada jadwal terkait dirinya yang terlihat di berita, sehingga Olivia tak tahu apa yang sedang pria itu kerjakan.
__ADS_1
Seandainya saja Olivia tak memiliki anak dengan pria itu, maka bertemu dengan Alio akan terasa seperti mimpi yang jarang terjadi. Tetapi kini, setelah ia terbangun dari mimpi itu, ia merasa bahwa Alio telah sepenuhnya menghilang dari dunianya, tanpa meninggalkan jejak.
"Tapi apakah Papa akan merasa nyaman jika dikelilingi oleh kerumunan seperti ini? Om Arnold pasti akan kembali merasa sakit kepala," suara Olvi tiba-tiba menarik perhatian Olivia.
Olivia tersenyum lembut, sementara kerumunan orang semakin ramai di sekitarnya, ia menggendong putranya dan Olvi memeluk lehernya dengan erat.
"Mama, bisakah aku meminjam handphonemu?" tanya Olvi dengan nada memohon.
"Untuk apa kamu butuh handphone?" tanya Olivia.
"Aku ingin melakukan video call dengan Papa," jawab Olvi.
"Kita harus melakukan video call dengan Papa karena di sini terlalu ramai," tambah Olvi dengan nada memohon. "Papa tidak pernah bisa berada di tempat yang menyenangkan seperti kita, bukankah itu menyedihkan? Kita harus memberikan semangat dan kebahagiaan kepada Papa!"
Merasa tak ada alasan untuk menolak permintaan anaknya, Olivia memberikan handphonenya kepada Olvi.
Olvi segera melakukan panggilan video dan suara bip dari handphone mengganggu suasana sekitar. Entah bagaimana, Olivia merasa gugup, tak yakin apakah mereka berdua terlihat aneh di depan kerumunan yang padat.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, wajah Alio akhirnya muncul di layar dan hati Olivia menjadi hangat saat melihat senyum di wajah pria itu.
"Olvi," ucap Alio akhirnya, suaranya terdengar lembut melalui layar handphone.
Mendengar suara Alio, detak jantung Olivia seakan-akan berhenti sejenak. Hampir tanpa sadar, ia mengangkat kepala dan menatap layar handphone dengan penuh harap. Wajah Alio muncul di matanya dengan jelas, seolah-olah mereka berdua sedang berada di tempat yang sama.
Ketika mata mereka bertemu, detik-detik itu terasa seperti berlangsung selamanya. Mereka saling menatap sejenak, seolah-olah berbicara tanpa kata-kata.
Sementara itu, Olvi dengan semangat berkata. "Papa! Mama mencarimu."
Olivia merasa terkejut dan langsung merasa salah tingkah ketika Olvi menuduhnya dan ia ingin marah kepada anaknya. Namun, Olivia mengingat bahwa mereka sedang melakukan video call dengan Alio, jadi ia menahan diri.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
__ADS_1
Thankyou so much and see you next part~