
Alio merenung dalam diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Arnold menunggu sejenak sebelum akhirnya berkata, "Sebenarnya, Dion Scarlett sedang mencoba memperbaiki hubungannya dengan Kakak saat ini. Aku sudah memeriksa jadwal Kakak malam ini dan Kakak bisa menghadiri acara amal tersebut."
Alio mendorong iPad kembali dan akhirnya Arnold hanya memberikan tiga kata padanya, "Mau datang atau tidak?"
...—oOo—...
Olivia dan Rena membawa Olvi ke Museum Sains dan Teknologi. Olvi berjalan bergandengan tangan dengan keduanya, penuh semangat.
Ketika Olvi memasuki simulator pesawat ruang angkasa, Rena mendekati Olivia dan bertanya, "Tadi pagi saat aku turun untuk membuang sampah, aku melihat mobil Presiden terparkir di bawah. Apakah Presiden menginap semalam di sini?"
Note: Gedung apartemen Rena dan Olivia saling bersebrangan.
"Hmm," gumam Olivia sambil mengangguk.
Rena merenung sejenak sebelum akhirnya berkata dengan suara pelan, "Ada apa antara kalian berdua? Apakah ada yang terjadi..."
Olivia merasa malu dan langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa."
__ADS_1
"Kamu yakin?" Rena masih merasa ragu dan menatap tajam ke arah Olivia.
Olivia mengangguk sambil memasang ekspresi serius. "Jika ada masalah, aku pasti akan memberitahumu!"
"Aku tidak tahu kalau Presiden kita cukup mengejutkan. Kamu sudah lama tinggal di Kediaman Presiden, pasti kamu tahu seberapa besar kamar Presiden. Bagaimana bisa kalau kabar ini tersebar dan orang-orang percaya bahwa Presiden negara ini tinggal di kamar kecil yang bahkan lebih kecil dari kamar mandi?"
"Kamu salah, Pak Presiden bukanlah pria yang mengejutkan! Tapi, dia itu sangat terhormat!" Olivia tidak setuju dengan pendapat Rena, dia masih kesal dengan masalah tadi pagi.
Rena menatap Olivia dengan tajam, kemudian tertawa. "Hahaha! Pasti ada sesuatu yang terjadi di antara kalian."
Olivia merasa sangat malu, wajahnya memerah karena tak bisa menyembunyikan kebohongan dari sahabatnya itu.
Tiba-tiba, handphone Olivia berbunyi, ia mengeluarkan handphonenya dan berkata kepada Rena. "Ini telepon dari Pemimpin."
Olivia meminta Rena untuk menjaga Olvi sebentar dan ia mencari tempat yang sepi untuk menjawab.
Setelah selesai, Olivia segera kembali.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Malam ini akan diadakan acara amal besar-besaran. Selain para pejabat dan pengusaha terkenal, beberapa perwakilan dari luar negeri juga hadir. Wakil Presiden Dion Scarlet meminta saya untuk menjadi penerjemah."
Rena mengernyitkan dahinya. "Kenapa mereka memilihmu sebagai penerjemah? Bukankah Wakil Presiden memiliki banyak penerjemah profesional yang lebih baik darimu? Apakah ada maksud lain di balik permintaan ini?"
Olivia merenung sejenak atas pertanyaan Rena, lalu wajahnya berubah dingin. "Aku akan mengetahuinya sendiri. Kalau tidak, aku tidak akan pernah tahu alasan di balik permintaan ini."
Rena khawatir. "Bagaimana jika kejadian terakhir kali terulang kembali, Olivia?"
Olivia tersenyum tenang. "Jangan khawatir, Rena. aku yakin mereka tidak akan berani menyakitiku seperti yang terakhir kali."
Rena mengangguk dan tetap gelisah. "Tetaplah berhati-hati, Olivia. Acara amal ini pasti akan dihadiri oleh banyak tamu penting."
"Oke, aku akan berhati-hati," jawab Olivia.
Mereka bertiga menghabiskan waktu bersama sampai siang hari. Setelah makan siang, Olivia harus segera meminta sopir untuk mengantar Olvi pulang ke kediaman Presiden.
— Bersambung —
***
__ADS_1
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
Thankyou so much and see you next part~