
Oleh karena itu, Sebas mengambil dan membawa hidangan yang tak Alio sentuh sama sekali ke lantai bawah.
Olvi menyerongkan kepalanya ke pintu dan mengintip ke ruang kerja Papanya.
Anak itu benar-benar bersimpati kepada Papanya. Jadi, Setelah memantapkan hatinya, Olvi memutuskan untuk mengambil risiko menghibur Papanya.
Tapi apakah itu akan menghibur Papanya?
Olvi mengetuk pintu ruang kerja Papanya dua kali dengan tangannya yang kecil, tapi pria di dalam sana tak memperhatikannya.
"Papa, aku masuk."
Setelah mengatakan kalimat itu, Olvi mendorong pintu hingga terbuka dengan sikap congkak.
Sebelum masuk, di ambang pintu Olvi mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan mendapati kalau lampu menyala di ruang kerja Papanya yang besar.
Ada banyak deretan rak buku, Olvi harus mengangkat kepalanya dan melompat kecil untuk melihat bagian atas rak buku disana. Tapi, anak itu tak melihat Papanya, jadi ia tertatih-tatih dari baris pertama rak buku dengan sandal kecilnya.
Ketika Olvi mencapai baris kelima, anak itu menemukan Papanya.
__ADS_1
Jelas, Alio dalam suasana hati yang sangat buruk, pria itu membungkuk di rak buku dan terus membolak-balik halaman hingga membuat suara flip-flop.
Bahkan saat Olvi datang, pria itu hanya melirik putranya dengan acuh tak acuh dan bibirnya pun tertutup rapat.
Olvi menyapa papanya, ia juga mengambil beberapa buku bahasa asing dan mulai membalik halaman.
Saat anak itu membuka halaman ke sepuluh, ia benar-benar bosan. "Papa, kenapa Papa menguping pembicaraan kami? Mama bilang kalau menguping adalah perilaku yang sangat tidak sopan."
"Siapa bilang Papa menguping? Itu telepon milik Papa. Jadi, Papa bisa mendengarkan kapanpun Papa mau." Alio tak ingin mengakuinya dan berdalih.
"..." Olvi terdiam.
Saat Alio bertindak tak tahu malu, Olvi—seorang anak berusia empat tahun, tak bisa bersaing dengannya.
Akhirnya, anak itu hanya bisa menepuk kaki panjang Papanya. "Aku tahu Papa sedih karena Mama berkencan, tapi Papa tidak boleh menghukum diri sendiri karena sedih, kan? Bagaimana dengan ini, saat Mama pulang besok, aku akan mengaku pada Mama untuk Papa! Biarkan Mama mempertimbangkan Papa dan berkencan dengan Papa!"
Anak nakal!
"Siapa yang mau berkencan dengannya? Wanita itu sebaiknya tidak perlu pulang!" Alio berkata dengan dingin dan meletakkan buku itu kembali di rak, lalu berjalan pergi dengan wajah dingin.
__ADS_1
Sementara Olvi, sebenarnya ia semakin frustasi.
Anak itu menatap punggung Papanya dan tak mengerti kenapa. Olvi jelas menghibur Papanya, tapi kenapa suasana hati Papanya tampaknya menjadi semakin buruk?
Dua langkah lagi mencapai ambang pintu, Alio teringat sesuatu dan tiba-tiba melihat ke belakang, menatap putranya.
"Kamu jangan bicara omong kosong di depan Olivia! Jika tidak, kamu jangan berpikir bisa belajar merakit senjata lagi!" Alio memperingati putranya.
Olvi tertegun dan anak itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya sambil berdiri tegak.
Setelah beberapa saat, Olvi membalas. "Papa benar-benar payah!"
"..." Alio terdiam sambil menatap putranya penuh tanya.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~