
"Sudah tidur?" tanya Alio. Pria itu bisa mendengar suara Olivia yang masih setengah sadar.
Olivia menjawab. "Hmm, baru saja selesai nonton TV di sofa, terus tertidur sebentar. Kamu sendiri? Masih sibuk?"
"Kau turunlah ke bawah!"
"..." Olivia terkejut sejenak, kemudian hampir segera berlari ke arah jendela di kamarnya. "Kamu di bawah?"
Tanpa menunggu jawaban dari seberang, Olivia langsung melihat Alio.
Di bawah, terparkir sebuah mobil hitam yang tak mencolok, mungkin Alio sengaja mengganti mobil agar tak terdeteksi identitasnya oleh orang lain.
"Bukankah Arnold dan yang lainnya selalu mengikutimu?" tanya Olivia dengan cemas sambil berjalan ke arah pintu.
"Tidak ada, meskipun mereka bisa menjamin keamanan, jujur saja mereka sering kali jadi pengganggu!"
"Tunggu sebentar, aku akan segera turun."
Setelah Olivia selesai bicara, ia menutup teleponnya. Kemudian cepat-cepat memakai sendal, mengunci pintu, dan berlari ke bawah.
Setelah keluar dari lift, angin dingin menusuk kulitnya, membuatnya menggigil kedinginan.
__ADS_1
Olivia terburu-buru keluar, jadi ia hanya mengenakan piyama dan bahkan lupa memakai jaket. Siapa yang tahu suhu malam ini akan sangat dingin?
Alio turun dari mobil sambil mengernyitkan alisnya, lalu meletakkan jaket di atas bahu Olivia dengan wajah serius. "Mengapa kamu tidak mengenakan jaket?"
"Aku pergi terlalu buru-buru." Olivia memakai jaket Alio dengan benar dan segera mengancingnya. Untuk sementara, nafasnya mulai stabil, ada aroma tubuh Alio dari jaket itu yang mengisi udara, memberikan rasa ketenangan.
Olivia mendongak. "Kenapa kamu datang kesini begitu larut malam?"
Alio tak akan mengaku bahwa ia datang kesini dengan gila hanya karena ingin melihat Olivia.
Alio bersandar di mobil sambil menatap Olivia. "Kemarilah!"
Olivia melangkah maju mendekati Alio dan hanya berjarak satu langkah didepan pria itu.
Olivia dengan susah payah menahan diri dengan tangan yang menyentuh mobil di belakang pria itu untuk menstabilkan dirinya.
"Ada apa?" tanya Olivia dengan suara lembut, membuat dirinya terlihat lebih tenang.
Tapi, Olivia tak tahu kenapa, ketika ia sangat dekat dengan Alio di malam hari, membuat denyut jantungnya berdetak lebih cepat dan bahkan tak terkendali.
"Kapan kamu berencana akan pindah dari apartemen ini?" tanya Alio.
__ADS_1
"Hah?" ucap Olivia sedikit terkejut, ia tersadar dan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak berencana untuk pindah lagi."
Alio mengerutkan kening, tampaknya sangat tak bahagia.
Olivia menjelaskan. "Aku harus memiliki tempat dimana aku bisa tinggal sendiri. Selain itu, aku merasa bahwa keadaan sekarang sudah cukup baik."
Olivia benar-benar mempertimbangkannya.
Dulu, Olivia bisa tinggal dengan tenang di apartemen karena ia benar-benar mandiri dan hidup sendiri.
Tapi sekarang ... situasinya berbeda.
Olivia tak ingin sepenuhnya bergantung pada seorang pria, karena jika terjadi sesuatu, hidupnya akan berubah menjadi gejolak yang sulit ia tanggung.
"Apanya yang sudah cukup baik?" Alio menatap Olivia, pria itu memberi jeda sejenak, lalu berkata lagi, "Olvi sangat ingin kau kembali tinggal di mansion, kau seharusnya menyadari hal itu."
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~