
Olivia bisa mendengar jantungnya berdetak dengan kencang dan ia merasa sangat gugup.
Sementara itu, Olivia juga merasa jantungnya hampir copot.
Olivia seperti terbang di atas awan, akan tetapi seperti menginjak awan juga, begitu ia terjatuh, ia akan hancur berkeping-keping.
"Jangan lakukan ini!" tanpa sadar Olivia mencoba menarik tangannya dari tangan Alio.
Pada saat yang sama, Olivia menatap kamera cctv dengan hati-hati. "Ada banyak kamera cctv di rumah sakit ini."
"Simpan saja kata-katamu!" Alio mendorong pintu bangsal itu hingga terbuka dan membawa Olivia masuk.
Olivia menatap pundak Alio yang lebar dan emosi yang campur aduk muncul di hatinya.
Alio memiliki status terhormat dan dalam setiap perjalanannya, ia akan dijaga dengan sangat ketat.
Tidak heran lagi, keselamatan dan kesehatannya sangat penting bagi seluruh orang.
Tapi sekarang…
Alio tahu betapa berbahayanya di dalam bangsal, tapi pria itu bersedia mengambil risiko bersama Olivia.
"Kita sudah memasuki bangsal sekarang, kenpa kau masih bingung?" Alio mendorong Olivia hingga maju. "Silahkan, kau hanya punya waktu sepuluh menit."
Olivia balik menatap pria itu dan matanya penuh rasa terima kasih.
__ADS_1
Kemudian, Olivia melihat ayahnya yang sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Walikota Stein juga melihat putrinya saat ini, tapi ia tak bisa mempercayai matanya.
Pria itu tiba-tiba duduk dari posisi tidurnya dan berkata dengan gembira. "Olivia!"
...—oOo—...
Pada waktu bersamaan, disisi lain.
Di ruang cctv yang besar, empat orang diperlakukan sebagai tamu kehormatan.
"Hah? Bagaimana ini bisa terjadi?" Jesi menatap layar dengan rasa tak percaya di wajahnya. "Bagaimana mungkin Pak Presiden menggandeng tangan Olivia?"
Mendengar perkataan Jesi, tiga orang lainnya juga melihat ke layar.
Untuk waktu yang lama, semua orang memusatkan perhatian mereka pada tangan yang tergenggam erat di layar cctv.
Meskipun mereka tak bisa mendengar apa yang Olivia dan Alio bicarakan, mereka semua menganggap adegan ini cukup menarik.
Yuta merasa pahit dan dadanya juga ikut terasa sesak.
Mungkin wanita tua itu benar, Olivia dan Pak Presiden...
Tapi bagaimana mungkin? Jelas sekali kalau mereka itu berasal dari dua dunia yang berbeda!
__ADS_1
Julia melototi layar dan tatapannya setajam silet, ia menolak untuk percaya kalau Presiden negara mereka akan berjalan bergandengan tangan dengan Olivia yang rakyat biasa dan bahkan memiliki seorang putra!
Pasti ada alasan khusus untuk itu! Ya! Pasti ada!
Julia bergumam pada dirinya sendiri dan akhirnya tenang setelah menghibur dirinya, tapi saat Julia melirik mata sedih Yuta, api kecemburuan mulai membakar dalam hatinya lagi!
...—oOo—...
"Ayah!" Olivia merasa sedih saat melihat sosok kurus ayahnya.
Saat wanita itu berjalan ke sisi ranjang rumah sakit, matanya langsung berlinang air mata.
"Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?" tanya Oliver Stein dan tangannya yang lemah memegang putrinya dengan bersemangat.
Pria tua itu sakit parah sehingga suaranya bahkan bergetar.
"Dia membawa ku masuk," jawab Olivia duduk di sisi ranjang dan berbalik menatap pria di belakangnya.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
__ADS_1
Thankyou so much and see you next chapter~