
Wanita itu meraba-raba dan mengisi daya handphonenya di atas nakas samping tempat tidur, ia berpikir untuk menelpon Rena ketika sudah terisi penuh.
Saat Olivia sedang beristirahat di atas tempat tidur dengan mata terpejam, handphonenya tiba-tiba berbunyi. Kemudian, ia membuka matanya dan meraih handphonenya di atas nakas.
Pada pandangan pertama, Olivia terkejut.
Itu dari...
Yuta.
Olivia ragu-ragu sejenak dan akhirnya mengetuk tombol jawab.
"Aku pikir kamu belum menyalakan handphonemu." Suara Yuta datang dari seberang sana.
"Aku baru saja mulai mengisinya," jawab Olivia.
"Kamu…," ucap Yuta menggigit bibirnya. "Apakah kamu di kediaman Presiden sekarang?" tanyanya kemudian.
"Hmm," jawab Olivia berdehem.
"..." Yuta tetap terdiam selama beberapa saat dan kemudian melanjutkan. "Kalian berdua ... sedang jatuh cinta?"
Olivia terlarut dalam telpon dengan Yuta, jadi ia tak memperhatikan kalau seseorang mendorong pintu hingga terbuka.
__ADS_1
Alio berjalan masuk dan kebetulan mendengar apa yang terjadi selanjutnya.
"Kamu salah paham," jawab Olivia sambil tersenyum pahit. "Aku bukan orang bodoh yang akan jatuh cinta pada Pak Presiden."
Alio diam-diam duduk di sofa gaya Eropa di samping Olivia, ia menatap dingin wanita itu dengan kaki yang menyilang.
"Apakah kamu menyukai Pak Presiden?" tanya Yuta.
Olivia menatap kosong dan tak menjawab pertanyaan pria itu.
Lalu, hanya ada keheningan yang melanda mereka.
Olivia melihat infus di tangannya sambil merenung.
Setelah beberapa saat, Olivia tersenyum dan menjawab pertanyaan Yuta dengan pura-pura santai. "Jika aku benar-benar menyukainya, aku pasti orang yang sangat bodoh di antara orang bodoh, kan?"
Olivia sangat ketakutan sehingga ia menjatuhkan handphonenya ke bawah tempat tidur.
Wanita itu berbalik dan menatap Alio. "Kapan ... kapan Anda masuk?" tanyanya dengan wajah syok setengah mati.
"Kenapa? Sekarang, hati nuranimu merasa bersalah?" jawab Alio balik bertanya.
Alio mengambil handphone Olivia dari lantai dan kemudian menatap benda itu dengan wajah masam.
__ADS_1
"Kenapa aku harus merasa bersalah?"
Sejujurnya, Olivia merasa lega kalau ia tak berbicara sesuatu yang salah dengan Yuta barusan, jika tidak...
Olivia menggigit bibirnya. "Ini kamar saya. Apakah Anda tidak tahu bagaimana cara mengetuk pintu?"
"Lelucon yang lucu, kapan kediaman Presidenku menjadi milikmu?"
Olivia menyerah. "Baiklah, saya tidak ingin bertengkar dengan Anda. Saya tidak punya kekuatan sekarang, tolong kembalikan handphone saya! Saya belum selesai berbicara di telepon."
Bukan masalah bagi Olivia jika harus menutup telpon Yuta, tapi ia masih harus menelepon Rena!
"Kenapa kau masih menggoda calon suami saudarimu? Olivia, kau sangat murahan!" ucap Alio sengaja menekankan kata 'murahan'.
Alio sudah agak kesal saat mendengar Olivia masih berhubungan dengan Yuta, sekarang wanita itu bahkan masih ingin melanjutkan percakapan mereka.
Selain itu, Olivia menghilang sepanjang hari dan tinggal di apartemen Yuta. Memikirkan beberapa hal itu, Alio tak bisa menahan diri untuk tak melontarkan kata itu.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~