
"Kenapa harus mencarinya sekarang? Bukankah kamu masih terlalu muda untuk itu?" tanya Alio dengan penuh kekhawatiran.
"Tidak, tidak. Jika tidak mencarinya sekarang, kapan lagi aku bisa menemukannya?" jawab Olvi dengan tegas.
Alio merasa sangat pusing dengan jawaban putranya dan ingin mengeluarkan Olvi dari rumah.
"Besok kita pergi ke dokter ya?" ucap Alio dengan serius.
"Apa yang terjadi, Pa? Apakah Mama sakit?" tanya Olvi dengan cemas.
"Tidak, kamu yang mungkin perlu diperiksa oleh dokter," ucap Alio dengan lembut, mencoba menjelaskan pada Olvi tentang kondisi yang mungkin sedang dialaminya.
"Hah? Aku baik-baik saja kok," jawab Olvi dengan mantap.
"Otakmu yang sakit, kenapa menyukai pria? Masih banyak wanita cantik di dunia ini!" Alio mengungkapkan kebingungannya.
"Apa? Hahaha!" Olvi tertawa.
"Kamu benar-benar kacau sekarang," keluh Alio.
"Papa salah, Apakah Papa tahu berapa umur Mama sekarang? 23 tahun! Oh tidak, sekarang dia sudah 24 tahun, usia yang paling baik menurut Mami Rena. Jadi sekarang, aku membantu Mama mencari pria, dan ketika Mama jatuh cinta, kami bisa menikmati dua atau tiga tahun bersama sebelum Mama mencapai usia 26 atau 27 tahun, yang menurut kami adalah waktu yang tepat untuk menikah!" Olvi menjelaskan dengan antusias.
"Jadi, kamu ingin membantunya?" tanya Alio.
__ADS_1
"Ya, aku akan punya Mama tiri, kan? Lalu, kenapa aku tidak bisa memiliki ayah tiri untuk kebahagiaan Mama?" jawab Olvi.
Wajah Alio menjadi suram, kemudian dengan gerakan spontan, Alio menampar pantat kecil Olvi dengan pelan.
Olvi terkejut, meskipun tak sakit, ia tak senang dengan perlakuan tersebut. "Hum, Papa! Mengapa Papa memukul pantatku?!" protes Olvi.
"Siapa yang menyebabkan masalah di sini?" tanya Alio dengan tegas.
"Papa tidak mau menikahi Mama, jadi untuk apa marah-marah?" sahut Olvi dengan nada menantang.
"Pha--" Olvi kembali berteriak. "Aku akan mengadu pada Mama jika Papa memukul pantatku lagi!"
Sebenarnya Alio tak berniat untuk benar-benar memukul Olvi, pria itu hanya ingin memberikan sedikit pelajaran.
Setelah melepaskan Olvi dari pelukannya, dengan cepat Alio membelah laptop itu menjadi dua dan membuangnya di hadapan Olvi sebagai tanda peringatan.
Ya, seharusnya anak itu tidak akan meminjamkan nya lagi!
"Papa, kamu benar-benar b*jing*n!" Olvi benar-benar kesal, anak itu berjalan keluar dari ruangan dengan mood yang buruk.
"Kalau begitu, sekarang kamu adalah anak dari seorang b*jing*n!" Alio membalikan kata-kata Olvi, suka kali ia tersenyum jahil.
"Huh!" Olvi tak punya pilihan selain akhirnya keluar, lalu bergumam. "Jika begitu mau Papa, aku tidak akan menyentuhnya lagi aku tidak akan menyentuh semua barang milik Papa. Aku akan mencari Mama dan meminjam laptop Mama."
__ADS_1
Setelah Olvi keluar dengan merajuk, Alio duduk kembali ke kursinya lalu merenungkan sesuatu.
Anak itu jelas punya ayah, kenapa harus mencari ayah tiri?
...—oOo—...
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Alio meninggalkan tempat kerjanya meski sudah melewati tengah malam.
Pria itu mematikan laptopnya dan pergi ke kamar tempat Olivia berada.
Di sana, ia melihat Olvi tidur di sebelah Olivia. Ibu dan anak itu terlihat begitu tenang dan damai.
Alio merasakan kehangatan yang tak terlukiskan di antara mereka, dan itu membuatnya tersenyum. Alio tak pernah berpikir bahwa ia akan menikmati kehangatan seperti ini.
Tiba-tiba, Alio teringat rencana Olvi untuk mencarikan seorang pria untuk Olivia. Wajahnya menjadi murung, dan satu lagi pemikiran muncul.
Mungkin lebih baik jika Olivia bersama dengan orang lain.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~