Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 370


__ADS_3

"Mama benar-benar ingin membersihkan toilet seumur hidup dengan sukarela dan tak merasa dendam sedikitpun?"


Ketika Julia membahas topik ini, Jesi yang menyadarinya langsung merasa marah. Selama hidupnya, Jesi tak pernah merasakan penghinaan seperti ini.


Sebagai istri walikota, Jesi membersihkan toilet?


"Baiklah, Mama akan mendengarkanmu. Kita akan mengungkapkan hal ini ke publik! Biarkan orang-orang tahu bahwa wanita dalam scandal itu bukanlah putri keluarga Scarlett, melainkan Olivia Stein! Dan Mama akan membantumu membalas dendam atas apa yang Olivia rampas darimu, Yuta!" ucap Jesi mengangguk setuju.


Julia segera membuat postingan, wanita itu penuh semangat menghancurkan Olivia dan siap untuk melepaskan kekesalannya yang terpendam di dalam hatinya.


"Apa yang sedang kalian lakukan?!"


Julia baru saja menulis sebagian kalimat, sebelum sempat menekan tombol kirim, tiba-tiba suara berat terdengar dari belakang mereka.


Kedua orang itu terkejut, secara refleks mereka berbalik ke belakang dan melihat bahwa Oliver Stein tiba-tiba berdiri di belakang mereka—tanpa mereka sadari sejak kapan.


Tatapan curiga dan menyelidiki bergerak melintasi wajah kedua wanita tersebut. Kemudian, tatapan itu tertuju ke layar laptop, Julia merasa sedikit kaget di dalam hatinya dan sedikit bergerak—mencoba menutupi layar.

__ADS_1


Namun, sudah terlambat!


"Biar aku lihat!" ucap Oliver tegas.


"Ayah, tidak ada apa-apa, lagian ini tidak terlalu penting untuk dilihat," tolak Julia malah semakin menutupi laptop tersebut.


Jesi tersenyum sambil bangkit dan memegang lengan suaminya. "Sayang, sudah larut malam sekarang, mari kita tidur! Julia masih mencari pekerjaan sekarang, besok dia akan menghadiri wawancara. Biarkan dia fokus, jangan sampai kita mengganggunya!" 


Oliver tak terpengaruh oleh kata-kata Jesi sama sekali, ia menghempaskan tangan Jesi yang memegangnya dan dengan cepat membuka laptop Julia.


Tak ada cara untuk menghindar dari situasi ini, setiap kata yang baru saja ditulis oleh Julia terpampang jelas di mata Oliver.


Jesi dan Julia saling memandang, lalu mereka berdiri di samping dengan rasa cemas yang tak terhindarkan.


"Untuk apa kau menulis hal-hal ini?"


Oliver akhirnya berbicara, suaranya terdengar jelas penuh kemarahan yang ditekan.

__ADS_1


Sedangkan kedua wanita itu hanya menggigit bibir mereka dan tak berani berkata apa pun.


"Aku akan bertanya sekali lagi, apa yang sebenarnya ingin kalian lakukan?!"


Tatapan tajam menusuk Oliver melintasi wajah Julia, sedangkan Julia hanya menggigit bibirnya dan tak berani berbicara sama sekali—ia bahkan melirik ibunya meminta bantuan.


Jesi memberanikan dirinya. "Kami ... kami hanya marah karena sangat frustrasi. Gara-gara Olivia, Julia kehilangan pekerjaannya dengan cara yang tidak jelas dan aku dipaksa membersihkan toilet selama 10 tahun! Sayang, Julia adalah putrimu dan aku adalah istrimu, apakah kamu tidak marah kami diperlakukan seperti ini? Kami hanya mencari keadilan dengan mengungkapkan identitas Olivia."


BRAK!!


"Dasar bodoh!" teriak Oliver marah tak terkendali, ia memukul meja dengan keras sehingga menghasilkan suara yang menggema dan menyeramkan di malam hari. "Apakah kalian merasa bahwa kekacauan di rumah ini belum cukup?!"


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~

__ADS_1


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2