Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 148


__ADS_3

"Kamu sudah bangun?"


Yuta mendorong pintu dan masuk ke dalam dengan secangkir air hangat, pria itu duduk di samping tempat tidur. "Minum obatnya dan kembali tidur sebentar lagi," ucap Yuta dengan suara yang sangat lembut.


Tiba-tiba … Olivia sadar. "Kenapa aku ada disini?" tanya Olivia dengan wajah tak bersahabat.


"Kamu tertidur dan aku tidak tahu harus mengantarmu kemana? Jadi, aku hanya bisa membawamu ke sini untuk sementara waktu," jawab Yuta menjelaskan.


Setelah Yuta mengatakan itu, Olivia ingat kalau ia benar-benar tak punya tempat tujuan hari ini.


Sebelum kondisinya didiagnosis, Olivia tak bisa pulang ke kediaman Presiden.


Adapun apartemen tempat Olivia tinggal dulu, ia sudah mengakhiri kontrak.


"Aku akan pergi ke hotel," ucap Olivia agak canggung. Itu adalah satu-satunya solusi yang bisa ia pikirkan.


Olivia menyingkirkan selimut dan bangkit dari tempat tidur.


Namun, ketika kakinya menyentuh lantai, Olivia langsung tersungkur dan tak bisa bangkit kembali.


Yuta terkejut melihat itu, jadi pria itu segera membopong tubuh Olivia dari lantai dan menempatkannya kembali di tempat tidur.

__ADS_1


"Kamu tidak bisa menjaga dirimu sendiri dalam keadaan ini, jadi tetap di sini untuk sementara waktu!" balas Yuta dengan wajah khawatir.


Mendengar itu, Olivia harus menolak dengan cepat dan tegas.


Mengingat kembali hubungannya dengan Yuta saat ini, lebih baik bagi mereka tinggal sejauh mungkin satu sama lain.


"Aku tidak ingin membuatmu dalam masalah," ucap Olivia lemah, kondisinya sangat mempengaruhi suaranya.


"Jika kamu benar-benar tertular virus, aku pasti juga sudah tertular karena kamu saat di rumah sakit. Coba kamu pikirkan, jika kamu pergi ke hotel, kamu mungkin akan menyebarkan virus kepada lebih banyak orang, kamu tidak ingin ini terjadi, kan?" balas Yuta membujuk Olivia untuk mempertimbangkannya.


Yuta benar.


Yuta memberikan obat kepada wanita itu. "Yang harus kamu lakukan sekarang adalah tetap di sini, jika kamu bersikeras ingin pergi, setelah kamu minum obat dan merasa lebih baik, aku tidak akan menahanmu lagi."


Wanita itu pun meminumnya, obatnya sangat kuat, setelah beberapa saat … ia tertidur lagi. Kali ini, Olivia tertidur sangat lelap.


...—oOo—...


Disisi lain, di istana putih Presiden.


Alio masuk ke dalam mobil, lalu Arnold bertanya kepadanya. "Bagaimana kalau kita pulang ke kediaman Presiden sekarang?"

__ADS_1


Alio merenung sejenak dan menjawab. "Tidak, ayo kita pergi ke Kementerian Luar Negeri!"


Hari ini mereka tak memiliki jadwal Ke Kementerian Luar Negeri, tapi Arnold tahu dengan jelas tujuan kakaknya itu, jadi ia tak berkomentar apa-apa dan hanya memberitahu tujuan mereka kepada sopir.


"Suruh mobil para bodyguard pergi, mereka tidak perlu mengikuti kita lagi!" perintah Alio.


"Baik," jawab Arnold dan menelpon untuk menyampaikan perintah.


Tak lama kemudian, beberapa mobil bodyguard dengan cepat bubar dan bergabung dengan arus mobil umum, para bodyguard tak mengikuti mobil Alio lagi.


Setelah beberapa saat, mobil yang ditumpangi Alio berhenti.


Mereka menunggu di pinggir jalan yang agak jauh dari Kementerian Luar Negeri dan sopir turun untuk menjemput Olivia.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~

__ADS_1


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2