
Merasa disalahpahami, diremehkan, dan dimarahi, mata Olivia langsung menjadi lembab karena air mata.
Bahkan, jika Alio menunggu beberapa kali, apakah pria itu punya hak untuk mengatakan kata-kata kejam itu untuk mempermalukan Olivia?
Bukan salah Olivia karena mengalami kecelakaan mobil!
"Itu semua urusan pribadi kita. Pak Presiden, apakah Anda sangat bosan sehingga peduli tentang hal sepele seperti itu antara pria dan wanita?" balas Olivia mencibir.
Alio mengerutkan keningnya dan mengepalkan tangannya yang memegang dagu wanita itu sehingga wajah Olivia berubah menjadi lebih pucat.
Bukankah apa yang baru saja Olivia katakan menyiratkan bahwa ada sesuatu di antara mereka?
Tatapan Alio berubah dingin dan tajam, seperti monster yang akan memangsa wanita itu.
Olivia merasa hampir tak bisa bernapas dan tubuhnya akan hancur di tangan pria itu.
Rasa sakit di dagu Olivia memaksanya untuk melawan, ia ingin melepaskan tangan pria itu tapi gagal.
Jadi, Olivia menggigit tangan Alio, pria itu memelototinya dan tiba-tiba Alio merasa semuanya adalah lelucon.
Alio merasa bosan dan lelah, jadi akhirnya ia membiarkan wanita itu pergi dan tetesan darah keluar dari tangannya.
__ADS_1
Tapi tatapan Alio masih tajam dan sangat dingin seolah-olah ia tak bisa merasakan sakitnya. "Olivia, lihat apa yang sudah kau lakukan!"
Setiap kata yang diucapkan pria itu sudah cukup untuk menghentikan Olivia.
Akhirnya, Olivia punya kesempatan untuk bernapas lega.
Wanita itu menatap Alio dan mendapati kemarahan dan penghinaan di mata pria itu.
Terutama penghinaan yang menyakitkan itu begitu jelas sehingga Olivia tak bisa mengabaikannya.
"Aku hanya tidak menepati janjiku, aku tidak pulang tadi malam. Kenapa kamu harus menghinaku seperti itu? Dan...," ucap Olivia berhenti, menundukkan kepalanya untuk mengemas barang-barangnya.
Alio tak mengerti apa yang Olivia katakan, pria itu hanya memperhatikannya berkemas, saat Olivia bergerak, tatapan Alio menjadi lebih dingin dan lebih menakutkan.
Setelah menyaksikan Olivia mengemasi semua barang, Alio akhirnya menemukan kesempatan untuk meledakkan amarahnya.
BRAK!!
Tiba-tiba ... Alio menghempas semua barang yang baru saja Olivia bereskan ke lantai.
Semua peralatan mandi dan pakaian Olivia jatuh dan berserakan di lantai.
__ADS_1
Olivia terkejut karena suara keras itu sehingga ia tak bisa berkonsentrasi untuk sementara waktu, ia terlalu lelah untuk bertengkar dengan pria itu.
Jadi, Olivia hanya berjongkok dan terus berkemas, Alio tetap berdiri di sana sambil menatap wanita itu. "Olivia, kau ingin pergi, kan?"
"Setidaknya saya tidak akan pulang selama beberapa hari."
Sangat merepotkan bagi Olivia untuk melakukan perjalanan bolak-balik antara kediaman presiden dan rumah sakit karena kedua tempat itu sangat berjauhan.
Jadi, Olivia berencana untuk menginap di rumah Rena selama beberapa hari, ia tak akan pulang sampai Yuta berhasil melewati beberapa hari masa yang sangat sulit pasca operasi, tapi Olivia tak perlu selalu ada di sana.
Perkataan Olivia membuat Alio murka, karena wanita itu akan bersama Yuta sepanjang malam lagi.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1