Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 230


__ADS_3

"Apa?" suara Olivia gemetar. 


Hampir saja wanita itu kehilangan akal saat Alio membisikkan namanya, seolah-olah pria itu sedang membisikkan syair cinta yang sukses membuat hati Olivia terguncang.


"Tolong."


Olivia terkejut, ia menopang dirinya di rak buku dengan tangannya yang terikat dan pipinya semakin merah karena sangat malu.


Wanita itu menatap mata Alio dengan detak jantung yang semakin cepat, ia tak bisa tak memikirkan adegan-adegan memalukan lima tahun yang lalu dan adegan-adegan yang ia ingin hindari jadi semakin jelas. 


Olivia tak tahu dari mana ia mendapatkan keberanian atau mungkin ia hanya tak ingin Alio menanggung siksaan. 


Olivia mencium Alio seperti yang pria itu lakukan pada dirinya.


Bibir Olivia sangat lembut.


Detik berikutnya Alio mengangkat wanita itu dan menekannya ke atas meja kerjanya.


"Pak Presiden! Sesuatu yang buruk terjadi!"


Sekarang ini, seseorang mengetuk pintu perpustakaan dengan keras.


Pintu tertutup, para maid dan butler lebih khawatir dari apapun sekarang.


Olivia sedikit sadar dan menatap pria itu dengan mata memikat.


Alio tak berhenti berhenti, tapi malah berteriak. "Pergi sana!"


Bagaimana Alio bisa membiarkan orang lain mengganggunya sekarang?

__ADS_1


Para maid di luar benar-benar tak tahu harus berbuat apa sekarang.


Suara Sebas terdengar setelah hening sejenak. "Pak Presiden, Tuan muda sakit sekarang. Jika Anda sibuk, kami akan pergi sekarang, saya akan memanggil dokter."


Apakah Olvi sungguh sakit?


Sebas sudah melayani keluarga Wilson selama berpuluh tahun dan pria tua itu selalu tahu bagaimana harus bersikap.


Sebas tak akan datang kepada mereka kecuali Olvi benar-benar sakit.


Olivia tiba-tiba tersadar dari pikirannya dan mulai khawatir dengan putranya.


Pada saat yang sama Alio sudah memegang pinggang Olivia dan pria itu mencoba untuk bergerak maju.


Akhirnya, kesadaran Olivia menyuruhnya memegang tangan Alio dan menghentikan pria itu. "Tunggu sebentar! Olvi sedang sakit sekarang, kita harus merawatnya. "


Sial!


Alio menggigit bibirnya dengan kasar dan berhenti dengan kesal. "Apakah kau tidak tahu bagaimana rasanya meminta seorang pria untuk berhenti pada tahap ini?"


Suara Alio terdengar sangat gusar.


Olivia tahu apa yang dirasakan Alio, tapi dalam situasi apa pun, putra mereka lebih penting daripada apa pun.


Mata Olivia yang basah berbicara karena hatinya, wanita itu menangis. "Kita tidak bisa membiarkan Olvi begitu saja di sana."


Alio mendengus. "Aku akan memberinya pelajaran tentang memilih waktu untuk sakit."


Olivia memukul bahu Alio. "Jangan menghukumnya, Olvi sudah menjadi anak yang menyedihkan."

__ADS_1


Alio menatap Olivia, wanita itu selalu menempatkan putranya di posisi pertama.


Olivia selalu memikirkan putra mereka! Di saat seperti ini pun wanita itu masih mengutamakan putra mereka.


Meskipun Alio menderita secara mental dan fisik, pria itu tak melanjutkan tindakannya.


Lagipula, Alio tak tahu bagaimana keadaan Olvi sekarang, tapi pria itu tak akan membiarkan Olivia pergi begitu saja.


Alio menarik napas dalam-dalam, berusaha mengurangi nafsu birahinya yang menyiksa.


Pipi Olivia masih memerah dan tubuhnya masih tampak menggoda.


Olivia berusaha tenang, setelah beberapa saat ia mengulurkan tangannya yang terikat. "Kenapa kamu tidak melepaskan dasi yang mengikatku?"


Alio melepaskan ikatan dasinya dan Olivia langsung mengambil dasi itu.


Olivia sudah memutuskan bahwa ia tak akan memberi pria itu dasi lagi.


"Berikan itu padaku!" Alio tahu apa yang dipikirkan wanita itu.


"Tidak! Aku menyesal memberimu hadiah semacam ini!"


Olivia merasa malu dan marah memikirkan apa yang telah Alio lakukan padanya tadi.


Pria itu punya sangat banyak trik kecil.


— Bersambung —


***

__ADS_1


Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)


Thankyou so much and see you next part~


__ADS_2