Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 127


__ADS_3

Olivia menatap Alio tanpa sadar, mengingat apa yang terjadi semalam, ekspresi malu muncul di wajahnya yang cantik.


Awalnya, Olivia pikir Alio akan menyangkal perkataan Olvi, tapi ternyata pria itu tak menyangkalnya sama sekali!


Sebaliknya, Alio menoleh ke arah Sebas dan memberinya beberapa perintah.


Olivia tak bisa berkata-kata karena melihat wajah tampannya dan berpikir kalau pria itu mungkin tak mendengar perkataan Olvi.


Wanita itu menggelengkan kepalanya dan mencegah dirinya memikirkan hal itu, lagipula … mereka berdua tak ada hubungannya satu sama lain.


Olvi hanya mengatakan itu dengan santai, jika Olivia memikirkan Alio, itu akan membuatnya terlihat bodoh.


Terakhir kali, Alio menjelaskan bahwa ia sedang mempermainkannya.


Dan tadi malam ...


Olivia hanya bisa menyalahkan hasratnya.


Untuk pria dan wanita lajang dewasa, bahkan jika mereka tak memiliki perasaan satu sama lain, akan mudah terbakar dengan nafsu, belum lagi kalau ia pernah tidur dengan pria itu.


Sambil menyingkirkan semua pikiran ini, Olivia meletakkan putranya di kursi anak-anak lalu menyentuh kening putranya sambil bertanya. "Apakah kamu masih merasa tidak enak badan sekarang?"


Olvi menggelengkan kepalanya. "Aku merasa sangat sehat!"

__ADS_1


Olivia tersenyum lega. "Dokter Lay sangat hebat. Tapi, apakah dia sudah meresepkan obat untukmu?"


"Mengapa aku harus minum obat?" tanya Olvi lebih bingung.


"Kamu demam tadi malam," sela Alio. Pria itu menyesap supnya perlahan dan elegan, lalu melirik putranya. "kamu tidak ingat?"


"Ah~ aku ingat ... Mama, aku masuk angin. Mama dan Papa sama-sama pergi, aku sangat kesepian…," Olvi mengambil kesempatan ini untuk mengajukan permintaan. "Mama, suatu hari nanti jangan meninggalkan rumah begitu lama lagi, oke? "


Olivia sangat menyayangi putranya, jadi begitu anak itu meminta, bagaimana ia bisa berpikir untuk menolak putranya?


Wanita itu mengangguk dan berjanji. "Oke, Mama berjanji Mama tidak akan pernah melakukannya lagi."


Olvi dengan bangga mengangkat alisnya pada seseorang.


...—oOo—...


Setelah sarapan, Olivia mengambil tasnya dan hendak pergi. Tapi, saat wanita itu sampai di pintu, ia meminta tolong pada Sebas untuk memberikan perhatian khusus dan menjaga Olvi.


Bagaimanapun, Olivia masih merasa khawatir.


"Sayang, Mama pergi dulu, ya? Beri Mama ciuman!" Olivia berjongkok dan membungkuk ke arah putranya.


Olvi berjinjit untuk memberikan ciuman di pipi cantik Mamanya. Tiba-tiba … anak itu memeluk leher Olivia dan berkata dengan suara pelan. "Mama, sebenarnya … aku sama sekali tidak sakit."

__ADS_1


"Apa?" balas Olivia bingung.


"Papa sudah membohongimu, sebenarnya … dia hanya ingin menjemputmu."


Suara Olvi sangat pelan sehingga hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya.


Setelah itu, Olvi meletakkan jari telunjuk di bibir Olivia. "Ssstt! Jangan beritahu Papa! Jangan beritahu dia kalau aku mengungkapkan kebohongan Papa, dia pasti akan mengancamku lagi."


Olivia terkejut dan bertanya-tanya apakah itu benar?


Sebelum Olivia bisa bertanya pada putranya secara detail, Alio berjalan keluar. Olvi dengan cepat melepaskan tangannya yang memeluk Olivia dan melangkah mundur.


Mungkin karena hati nuraninya yang merasa bersalah, Olvi berdiri tegak dan memanggil pria itu dengan suara yang kuat. "Papa, dadah!"


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~

__ADS_1


__ADS_2