
Arnold menjawab. "Kakak tidak bertanya, jadi aku tidak memberitahumu."
Dibandingkan dengan urusan negara, penilaian Olivia itu masalah sepele. Bagaimana Arnold bisa membicarakan itu pada saat ini?
"Pergi ke sana dan tinggalkan pesan atas nama siapa pun yang penting," ucap Alio dengan nada datar sambil memandang ke luar jendela.
"Untuk membiarkan kak Olivia kembali ke Kementerian Luar Negeri?" sahut Arnold bertanya.
Alio menjawab. "Beri saja dia kesempatan untuk ikut serta dalam penilaian."
Olivia telah mempersiapkan banyak hal dan bekerja keras untuk penilaian, jadi Alio akan memberinya kesempatan untuk membuktikan diri.
Arnold mengerti itu dan ia menatap Kakaknya ingin mengatakan sesuatu, tapi tak mengatakan apa-apa.
Alio memalingkan wajahnya dan melirik Arnold. "Katakan apapun yang kau inginkan."
"Kakak dan Kak Olivia..."
"Apa yang kau khawatirkan?"
"Sebenarnya, itu bukan kekhawatiran. Nah, Nona Scarlett sudah menelponku beberapa kali baru-baru ini. Dia sangat khawatir dengan Kakak, aku rasa sepertinya dia sangat tertarik dengan pernikahan politik."
Alio tetap diam untuk waktu yang lama dan ekspresinya sangat sulit dipahami sehingga tak ada yang tahu apa yang sedang pria itu pikirkan.
Akhirnya, Alio sedikit mengangguk. "Aku punya rencana sendiri."
__ADS_1
Mendengarkan itu, Arnold tak berbicara lagi.
Mereka yang melakukan hal-hal hebat selalu pandai mengukur taruhannya, dalam menghadapi negara dan kekuasaan, cinta romantis dan pernikahan selalu menjadi batu loncatan.
Setiap orang dengan kekuasaan tertinggi tahu tentang hal itu.
Sepanjang jalan, Alio tak mengatakan apa-apa tapi terus membolak-balik file penyelidikan ledakan di Istana yang diberikan oleh Arnold.
Dokter Lay memberinya suntikan penghilang rasa sakit di pagi hari yang bisa menahan rasa sakit di lukanya, sehingga Alio hampir tak merasakan sakit sekarang.
...—oOo—...
Di sisi lain.
"Masuk!" Suara Hansel Taylor datang dari ruang kerja.
Dave membuka pintu lalu dengan hormat berkata. "Tuan, tuan muda kedua ada di sini."
"Biarkan dia masuk."
Lucas berjalan masuk dan menutup pintu. "Kakak, terakhir kali aku menelponmu untuk melakukan sesuatu untukku, apakah semuanya sudah beres sekarang?" pria muda itu bertanya.
"Permintaan membiarkan Olivia kembali ke Kementerian Luar Negeri?" jawab Hansel kemudian.
"Ya! Bagaimana dengan itu?"
__ADS_1
"Jangan khawatir, aku akan mengurusnya hari ini." Hansel mengambil remote control dan membuka layar raksasa di ruang kerjanya.
Lalu, berita TV muncul di layar.
"Itu bagus." Lucas mengangkat alisnya yang tampan. "Jika Kakak ingin aku berkencan dengan gadis itu lagi, Kakak harus segera mengurus masalahnya. Kalau tidak, aku akan terlihat buruk di depannya."
"Kak, ada yang ingin kutanyakan padamu!"
Lucas mendekati saudara lelakinya yang tertua, sementara Hansel memfokuskan perhatiannya pada berita TV.
Di dalam berita itu, Pak Presiden yang berkuasa muncul dengan selamat dan sehat di depan publik, semuanya diatur dengan baik dan seluruh situasi di bawah kendalinya.
Hansel Taylor mengerutkan keningnya, karena ia tak menyangka Alio begitu beruntung bisa bertahan hidup.
"Kakak, aku bertanya padamu!" Lucas melambaikan tangannya di depan wajah Hansel.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1