
Tapi…
Tak nyaman jika orang lain mengantar Olivia pulang sampai ke tempat tinggalnya di kediaman Presiden.
"Kamu tidak perlu repot-repot mengantarkan aku pulang."
Tolak Olivia mendorong Lucas ke mobil, membuka pintu dan langsung memasukkan pria itu ke dalam mobil.
"Lebih baik kamu pergi sekarang! Mengendarai mobil seperti ini bersamaku hanya akan membuat orang lain iri."
Lucas tertawa pelan karena menganggap Olivia lucu. "Jika kamu tidak memperbolehkan aku mengantarmu pulang, maka kamu harus memberikan handphonemu padaku!"
"Apa yang ingin kamu lakukan dengan handphoneku?" Olivia melirik pria itu curiga sambil berjaga-jaga.
"Berikan saja padaku!"
Dengan tangan dan kakinya yang panjang, Lucas mencondongkan tubuhnya ke luar jendela dan dengan mudah mengambil handphone dari tangan Olivia.
Pria itu mengetuk layar handphone Olivia dengan jari-jarinya yang indah, lalu tak lama kemudian handphone miliknya sendiri berdering.
Setelah itu, Lucas mengembalikan handphone Olivia. "Beberapa hari lagi aku akan mengajakmu makan malam, aku tahu tempat yang sangat bagus."
Olivia melihat handphonenya dan berpikir kalau tuan muda itu dengan sadar telah menambahkan nomor telponnya sendiri di handphonenya.
Lucas Taylor.
Dia adalah pria yang sangat humble.
__ADS_1
BROOM–
Aston Martin milik Lucas meluncur pergi. Tapi baru beberapa meter, tiba-tiba mobil itu berhenti dan kembali lagi.
Kaca mobilnya perlahan turun dan wajah tampan dengan senyum menawan terpancar dari dalam sana.
Lucas menatap Olivia. "Kamu harus menjawab setiap kali aku menelponmu, oke?"
"Hm, oke."
...—oOo—...
Setelah kembali ke kediaman Presiden, Olivia langsung melapor kepada putranya.
Tak lupa, setelah mandi ia tetap mempersiapkan penilaiannya untuk lusa nanti.
Tinggal satu hari lagi.
Alio Wilson.
Tubuh Alio tinggi dan pria itu bersandar di rak buku oval dengan sebuah buku di tangannya.
Olivia bertemu dengan Alio secara tak sengaja, karena ia hampir tak melihat pria itu sebelumnya.
Di bawah cahaya lampu pria itu tampak sangat berbeda hari ini.
"Halo, Pak Presiden." Olivia menyapa Alio, berusaha melupakan apa yang terjadi semalam.
__ADS_1
Alio melirik Olivia dengan mulut tertutup dan tak mengatakan sepatah kata pun, kemudian ia kembali membaca buku yang ada di tangannya.
Olivia sudah terbiasa dengan ketidakpedulian Alio. Namun, hari ini suasana hati pria itu tampak buruk.
Melewati Alio, Olivia hanya terus mencari buku-buku yang ia butuhkan, mengambil beberapa buku dari rak, namun masih ada satu buku yang berada jauh di atas kepalanya.
Olivia tak ingin menaiki tangga, karena terakhir kali saat ia terjatuh dari tangga, masih teringat dalam pikirannya.
Meskipun berusaha dengan berbagai cara, Olivia masih belum mendapatkan buku itu, meraihnya saja ia tak bisa.
Olivia mengerutkan keningnya karena merasa tertekan. Tiba-tiba, di belakangnya, bayangan hitam tampak menutupi tubuhnya.
Jantung Olivia berdegup kencang, dada Alio yang bidang telah menyentuh dan mendorong punggungnya.
Kemudian, lengan Alio yang panjang mengelilingi Olivia dan dengan mudahnya Alio mengambil buku itu.
Tanpa disadari, ujung jari pria itu menyisir rambut Olivia.
Detak jantung Olivia kacau saat panas tubuh mereka bertemu, kemudian ia berbalik tanpa sadar.
Pada saat itu, Olivia melihat Alio menundukkan kepalanya dan bibir mereka hanya berjarak satu inci.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~