Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 228


__ADS_3

Mungkin Alio sudah tidur, batin Olivia lalu meletakkan hairdryer dan berjalan keluar kamar.


"Nonya."


Olivia bertemu dengan seorang maid di luar dan mengangguk pada maid itu. "Apakah Alio sudah tidur?" tanyanya.


"Belum," jawab maid itu menggelengkan kepalanya. "Tuan ada di perpustakaan setelah mandi, dia sibuk melakukan sesuatu."


Olivia mengangguk pada maid itu. "Bisakah kamu memberiku sebotol wine? Bukan yang kuat."


Olivia menutup pintu, alkohol mungkin akan banyak membantu. 


Segera maid itu menyerahkan sebotol wine kepada Olivia, ia hanya minum sedikit karena tak ingin mabuk.


Olivia sudah menyiapkan segalanya, baik mental maupun fisiknya, wanita itu langsung berjalan ke perpustakaan.


Alio tak menjawab sampai Olivia mengetuk tiga kali, lalu wanita itu memutuskan langsung masuk ke dalam.


Perpustakaan itu besar dan lampu di perpustakaan hanya nyala beberapa, sehingga tak menerangi seluruh ruangan. 


Dan itu membuat Olivia sedikit rileks.


Alio bersandar di rak buku dengan pakaian tidurnya, pria itu sedang membaca buku bahasa asing. 


Olivia tak berani melihat lebih dekat untuk mencari tahu tentang apa buku itu.


Alio memperlakukan Olivia seperti wanita itu tak ada di sana, ia bahkan tak mengangkat kepalanya dari buku itu.


Olivia merasa tak nyaman, ia berdiri di sana seperti akan menghadapi persidangan. 


Setiap detik adalah siksaan, kenapa pria itu tidak bisa langsung saja?

__ADS_1


Alkohol memang banyak membantu, Olivia menjadi berani.


"Apakah kata-katamu masih berlaku?" tanya Olivia setelah menarik napas panjang. 


Berjalan langsung kepada Alio membuat Olivia tampak tenang.


Setelah mandi, aroma memikat keluar dari tubuh Olivia. 


Alio mengangkat kepalanya dari buku, tatapan pria itu masih dingin dan gelap tanpa emosi. 


Tubuh Olivia segar dan bersih setelah mandi, wajahnya terlihat lebih menarik tanpa makeup. 


Alio tak mengatakan apa-apa tapi pria itu menatap Olivia seolah-olah ia bisa merobek piyama wanita itu. 


Olivia tersipu karena ia merasa tak nyaman saat Alio menatapnya seperti itu. 


Keberanian yang Olivia dapatkan dari wine memudar, ia belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya! 


Olivia tak berani mengucapkan keluhannya, ia memaksa dirinya untuk mengatakan sesuatu. "Yah, aku yang memutuskan, aku akan melakukan apa yang kau katakan, tapi kalau kamu bisa menepati janjimu."


Olivia memalingkan wajahnya, berusaha untuk tak menatap mata Alio. 


Pipi Olivia semakin memerah karena malu.


Lalu…


Perpustakaan itu menjadi hening dan sangat sunyi.


Alio menutup bukunya dengan sangat pelan, tapi suara kecil itu cukup jelas untuk membuat Olivia gugup.


Olivia sangat ingin mendongak dan melihat ekspresi wajah pria itu, setidaknya Olivia harus mencari tahu perilakunya.

__ADS_1


Apakah ini berarti Alio tidak ingin melakukannya? Atau Alio ingin menarik kembali perkataannya?


"Apakah kau minum alkohol?" .


Sekarang, Alio mulai bertanya sesuatu yang aneh.


"Hm." Olivia mengangguk.


"Berapa banyak yang kamu minum?"


Apa yang pria ini bicarakan? batin Olivia berusaha keras untuk mencari tahu.


"Hanya sedikit."


"Apakah ini masalah besar bagimu untuk tidur denganku?"


Tiba-tiba Alio mengulurkan tangannya dan meletakkan tangannya di pinggang Olivia, sementara tangan satunya mengangkat dagu wanita itu.


Tatapan Alio gelap dan dalam dengan sensasi berbahaya di dalamnya. "Apakah kau perlu alkohol sebelum tidur denganku?"


Alio membuat Olivia lebih gugup, wanita itu melangkah mundur dan bersandar di rak buku.


Olivia menatap Alio tapi langsung memalingkan wajahnya. "Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya. Jadi aku pikir ... alkohol mungkin bisa membantu."


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)


Thankyou so much and see you next part~

__ADS_1


__ADS_2