
"Di rumah sakit mana kamu berada?" Alio menanyakan dengan nada bicaranya yang lebih tenang.
Setelah Olivia memberikan alamatnya, tanpa menunggu terlalu lama, Alio langsung mematikan teleponnya.
Mobil segera keluar dari kediaman Presiden dan lenyap di tengah kegelapan malam.
Olvi memandangi keluar jendela sambil berjinjit dan menggelengkan kepala dengan rasa bingung dan takjub.
Olvi berkata dengan raut wajah kebingungan. "Itulah Papaku, mulutnya berbeda dengan hatinya."
Anak itu tak bisa memahami sikap ayahnya yang tsundere.
...—oOo—...
Olivia mengalami anemia setelah transfusi darah, seluruh tubuhnya menjadi lemah dan wajahnya menjadi pucat.
"Bagaimana?" tanya Rena sambil membantu sahabatnya. "Bagaimana kondisimu sekarang? Kamu mungkin agak pusing setelah transfusi darah."
"Hm," Olivia mengangguk sebagai jawaban.
Lucas mengeluarkan susu kotak dari dalam plastik dan menyodorkannya kepada Olivia bersama sedotan. "Aku baru saja membelinya di toko. Ini sedikit dingin, kamu minumlah dulu. Kamu harus mengisi tenaga."
"Terima kasih," ucap Olivia sambil menerima susu tersebut.
__ADS_1
"Duduklah dulu," ucap Lucas dan Olivia pun duduk diikuti oleh Lucas.
Setelah beberapa saat mempertimbangkan, Lucas menatapnya dengan serius. "Olivia, ada sesuatu yang harus kukatakan padamu."
"Apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Olivia dengan bingung.
Rena juga memandang ke arah Lucas.
"Itu..." ujar Lucas, namun tiba-tiba terpotong oleh panggilan seseorang dari luar ruangan.
Pintu ruang gawat darurat terbuka dan seorang dokter keluar dari sana dengan ekspresi tenang.
Lucas ingin melanjutkan pembicaraannya, tapi rencananya tertunda lagi karena kehadiran dokter itu.
"Untungnya, kondisi Nyonya Obella bisa di atasi dan darahnya telah berhenti. Berkat Nona Olivia semuanya bisa di lakukan dengan sukses."
"Syukurlah..." Olivia, Rena dan Lucas merasa lega.
"Kapan Nyonya Obella bisa di pulangkan?" tanya Lucas.
"Nyonya Obella Perlu dirawat di rumah sakit untuk observasi malam ini. Jika tidak ada masalah lain, dia bisa dipulangkan besok."
"Baiklah," balas Lucas sambil mengangguk, merasa lega karena kondisi Nyonya Obella membaik.
__ADS_1
Olivia bertanya pada Lucas. "Kamu bilang ada sesuatu yang ingin kamu katakan kepadaku? Apa itu?"
Setelah berpikir sejenak, Lucas menggelengkan kepalanya. "Maaf, sepertinya aku lupa."
"Apakah itu begitu penting? Wajahmu tadi terlihat sangat serius, pasti itu sangat penting, bukan? Aku akan menunggumu sampai kamu mengingatnya," tanya Olivia dengan penuh perhatian.
"Mungkin aku hanya ingin mengucapkan terima kasih," jawab Lucas samar-samar. Pria itu terdiam sejenak, lalu menatap Olivia lagi. "Golongan darahmu sangat istimewa. Jagalah dirimu dengan baik di masa depan dan jangan lakukan hal yang tidak perlu. Kalau tidak, dari mana kamu akan mendapatkan darah yang sesuai?"
Olivia tersenyum dan berkata. "Aku tidak tahu apakah kau tahu bagaimana cara peduli pada seseorang. Ketika Olvi dilahirkan, aku mengalami pendarahan hebat dan hampir meninggal di ruang operasi karena golongan darahku yang spesial. Beruntung, rumah sakit memiliki satu-satunya persediaan darah tipe O negatif yang membuatku bersyukur bisa hidup lebih lama."
Lucas melanjutkan. "Pasti perjalanan hidupmu sebagai singel mom sangat berat. Duduklah lebih lama, kamu baru saja kehilangan banyak darah dan wajah pucatmu terlihat tidak enak dilihat."
Lucas melambaikan tangannya, mengisyaratkan agar Olivia duduk dan istirahat.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1