Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 364


__ADS_3

Olivia mencoba membuka bibirnya untuk mengatakan sesuatu, tapi akhirnya tak mengucapkan sepatah kata pun.


Lalu, Rena tiba-tiba menarik tangan Olivia dan membawanya duduk ke kursi.


"Minum air dulu untuk meredakan keterkejutanmu!" ucap Rena menyerahkan segelas air hangat padanya. 


Olivia memegangnya, lalu segera meminumnya dengan tegukan besar.


"Sekarang ... apakah berita di internet sudah menggila?" tanya Olivia dengan suara yang agak samar—ia tak berani melihat.


"Iya, bahkan sangat gila! Ada orang yang memanipulasi emosi publik di internet, mengatakan bahwa mereka akan mengumpulkan tanda tangan dan mengajukan petisi ke DPR untuk menggulingkan Presiden. Kamu juga tahu, pertarungan politik selalu penuh dengan tipu daya dan intrik. Meskipun begitu, untungnya ... Meskipun banyak orang mengancam akan mengungkap identitasmu, tapi ... untuk saat ini, belum ada penyebaran berita tentangmu di internet. Menurutku, orang yang menyebarkan foto-foto ini mungkin tidak ingin mengungkapkan informasimu."


Olivia terus kepikiran dengan Alio, ia mengambil handphonenya dan melihatnya berkali-kali, tapi tak ada satu pun orang yang menelponnya.


Rena menatap Olivia. "Kamu ... apakah ingin menelepon dan menanyakan keadaan Pak Presiden?"


Olivia menggelengkan kepalanya, meletakkan handphone, lalu mencengkeram erat gelas yang dipegangnya. "Alio pasti sangat sibuk sekarang, mungkin lebih baik aku tidak mengganggunya. Selain itu ... jika aku meneleponnya, itu tidak akan membantunya."


Olivia kembali menyadari bahwa sebenarnya... ketika Alio terperangkap dalam situasi bahaya, Olivia bahkan tak memiliki kualifikasi atau kekuatan untuk membantu pria itu.

__ADS_1


Dunia Alio ... Olivia benar-benar tak mengerti. Olivia bahkan tak bisa membayangkan bagaimana badai dan bahaya yang Alio hadapi sekarang.


Rena menatap Olivia dengan cemas dan menepuk tangan sahabatnya itu. "Aku akan menelpon Lay Hason sekarang dan bertanya tentang keadaan Pak Presiden. Setidaknya, dia tahu sedikit informasi."


Olivia hanya mengangguk sebagai respon.


...—oOo—...


Rena menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya memutuskan untuk menelepon Lay Hason.


"Halo?"


Saat telepon mereka terhubung, Rena langsung berbicara, dokter Lay di seberang sana terdiam sejenak.


Rasa sakit seperti ini telah menghantuinya selama bertahun-tahun, ia pikir dirinya sudah terbiasa dan mati rasa.


Namun, baru-baru ini rasa sakit itu kembali membara.


"Apakah kamu ingin bertanya tentang Pak Presiden?"

__ADS_1


Akhirnya dokter Lay membuka suara.


"Ya," balas Rena cepat sambil mengangguk.


Sebuah kekecewaan melintas dalam benak Lay Hason. Namun, pada saat yang sama, ia merasa seolah-olah itu adalah sesuatu yang wajar. Jika bukan karena masalah Alio, Rena tak akan meneleponnya lagi.


"Katakan pada Olivia agar tidak khawatir, kami akan menyelesaikan masalah itu di sini."


Rena melirik sahabatnya, Olivia bangkit mendekatinya dan menempelkan telinganya ke handphone untuk mendengarkan percakapan mereka.


Rena bertanya. "Jadi ... bagaimana situasinya sekarang?"


"..." Lay Hason terdiam sesaat sebelum akhirnya mengatakan yang sebenarnya, "Tidak begitu baik, aku dengar bahwa Wakil Presiden Dion Scarlett, telah datang langsung ke Istana Presiden. Meskipun dia tidak memiliki hak suara dalam pemakzulan presiden, tapi posisinya tetap penting. Apalagi ... hal yang terungkap kali ini sangat memalukan bagi keluarga Scarlett, jadi—"


- Bersambung -


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~

__ADS_1


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2