Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 199


__ADS_3

Alio terlalu marah untuk memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Kau baru saja tidur dengannya, aku yakin itu sangat enak sehingga kau tidak sabar untuk melakukannya lagi, kan?"


Olivia tak tahan lagi. "Kamu berbicara yang tidak masuk akal! Aku hanya ingin merawatnya! Itu tidak seperti apa yang kamu pikirkan!"


"Merawatnya? Di kamar tidur? Meninggalkan putramu untuknya? Apa hubunganmu dengannya? Kenapa kau harus melakukan hal-hal semacam itu untuknya?" ucap Alio bertanya-tanya dengan marah.


Alio merasakan api membakar di dadanya yang membuatnya kehilangan martabat, sopan santun dan akalnya. 


Olivia ingin menjelaskan kepada Alio, tapi ia menyadari tatapan pria itu sangat marah. 


"Olivia," lanjut Alio. "Jika kau benar-benar tidak sabar ingin pergi, keluarlah! Jangan pernah pulang lagi!" usir Alio dengan nada dingin dan kejam.


"Tidak seorang pun di keluarga ini menyukaimu kecuali Olvi," tambah pria itu tanpa berpikir apa yang sudah dikatakannya saat itu bisa menyakitinya. 


Olivia benar-benar terkejut, ia mencengkram koper di tangannya lebih erat, seolah-olah ia telah dipukul dengan keras sehingga semua yang ia ingin jelaskan telah tertelan kembali ke tenggorokannya dan mencekiknya.


Namun, bagaimanapun perkataan pria itu mengingatkan Olivia bahwa ia tak bisa masuk keluarga ini tanpa Olvi. 


Suatu hari nanti, akan ada Nyonya baru dan Olivia harus pergi cepat atau lambat.

__ADS_1


Olivia akan pergi sendiri atau diusir suatu hari nanti.


Sosok Olivia yang diam membuat Alio merasa sedikit gugup dan bingung, pria itu mengerutkan kening, jika ia bisa diberi waktu sebentar, ia akan menariknya kembali.


Tapi beraninya dia? Jika dia berani pergi, aku tidak akan pernah menahannya untuk tetap tinggal!


Dengan pemikiran itu, Alio berbalik dengan dingin dan melangkah pergi.


Olivia tak merasa lelah secara fisik sampai pintu kamarnya dibanting, ia tersungkur ke lantai, lalu bersandar di ujung tempat tidur dan matanya dipenuhi air mata lagi.


...—oOo—...


Para maid dan butler tetap diam dan bahkan tak berani bernapas, karena Pak Presiden dan Nyonya Olivia bertengkar, sangat jarang melihat Pak Presiden bersikap seperti itu!


Sementara itu, Sebas keluar dari dapur dan memberi perintah kepada seorang maid. "Siapkan sup ini untuk Nyonya!"


Saat Sebas sudah selesai, ia melihat ada sesuatu yang aneh dengan Alio dan buru-buru memberi hormat. "Pak Presiden."


"Apa ini?" tanya Alio sambil menatap sup itu dengan wajah dingin.

__ADS_1


"Ini sup yang diminta oleh Nyonya untuk dimasak saat dia baru saja pulang, dia bilang akan mengambilnya nanti."


Wajah Alio semakin masam. "Bawa ke halaman belakang dan beri makan hewan peliharaan keluarga Wilson."


"..."


Mendengar itu, Sebas hanya terdiam, memberi makan hewan peliharaan? Sayang sekali, selain itu ... bagaimana aku harus memberi tahu Nyonya?!


"Apakah aku harus mengulangi kata itu lagi?" tanya Alio sangat tak sabar. 


Pak Presiden mengerutkan keningnya pada Sebas dan tatapannya membuat pria tua itu takut sampai-sampai berkeringat dingin. 


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~

__ADS_1


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2