
"Kamu hanya melindungi Olivia, padahal dulu kamu tidak seperti ini!"
"Kamu tidak tahu apa-apa! Jika kalian terus membuat masalah, jangan harap bisa hidup dengan tenang lagi!" Oliver benar-benar murka. "Kalian berdua bahkan berani menyinggung Presiden! Apakah kau tahu apa yang terjadi pada mereka yang terlibat keributan bersamamu sebelumnya?!"
"Memangnya ... apa yang terjadi?"
"Mereka dipecat dan diadili, pada akhirnya mereka akan berakhir di penjara. Bahkan istri-istri mereka yang sering melakukan hal-hal yang melanggar hukum tidak akan luput dari hukuman! Jika hari ini kalian berani memposting semua ini di internet, Presiden akan dengan mudah menemukan tuduhan untuk menjatuhkan kita. Jangan berpikir bahwa kamu hanya akan membersihkan toilet, itu tidak akan semudah itu!"
Jesi benar-benar terkejut, jika ia mengorbankan suaminya dengan menyebarkan hal ini hanya untuk memuaskan kemarahannya, maka kerugian yang akan dideritanya sangat besar. Bahkan tak lagi menjadi istri walikota, apa arti hidupnya lagi?
Setelah Oliver pergi, Jesi langsung mengambil laptop dan menghapus sendiri semua tulisan yang ditulis Julia.
Sepertinya Jesi takut Julia bikin ulah sendirian, sampai wifi di kediaman keluarga Stein juga ia cabut.
"Mama apa-apaan, sih?"
"Pakai nanya lagi! Jangan bikin aku pusing! Ayahmu berbicara sangat logis, kita rakyat biasa mau berantem sama Presiden, sama aja cari mati, kan?"
Saat Jesi akhirnya berjalan pergi, Julia kembali memasang kabel wifi dan menyalakan laptop sambil berpikir. Pada akhirnya, Julia tak menulis ulang postingan itu.
__ADS_1
Olivia sangat beruntung mendapatkan Presiden sebagai pelindungnya! batin Julia.
...—oOo—...
Olivia mengeluarkan HP-nya, sebenarnya ia sangat berharap Alio yang menelponnya, tapi saat melihat kata yang berkedip di layar handphonenya, Olivia jadi agak kecewa—seharusnya ia tak berekspektasi tinggi.
Rena menyadari ekspresi wajah Olivia, ia juga melihat layar handphone.
Bukan Presiden Alio yang menelpon Olivia, tapi yang muncul di layar tulisannya 'Lucas'.
"Jawablah!" ucap Rena menyenggol bahu Olivia.
"Iya, lebih tepatnya di apartemen Rena."
"Aku di bawah, gedung kalian berseberanga, kan? Turunlah! Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
Olivia tak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Lucas, tapi ia tak menolak. Olivia memasang jaket karena cuaca malam ini agak dingin, lalu pergi keluar.
Lucas tak turun dari mobilnya, begitu ia melihat Olivia, ia hanya membuka pintu dari dalam mobil dan mempersilahkan Olivia masuk.
__ADS_1
Di dalam mobil, terasa agak hangat, membuat Olivia merasa jauh lebih nyaman.
"Kenapa kamu ingin menemuiku larut malam begini?" tanya Olivia pada Lucas.
Lucas memandang Olivia. "Kamu terlihat tidak baik-baik saja."
Olivia tak memberikan jawaban, sudah jelas bahwa Lucas pasti juga melihat berita yang melaporkan scandal hari ini.
"Apakah kamu ... tahu keadaannya sekarang?" tanya Olivia lagi pada Lucas.
Olivia benar-benar tak punya tempat lain untuk bertanya, kakak laki-laki Lucas adalah perdana mentri, mungkin dia bisa mengetahui beberapa informasi.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
__ADS_1
Thankyou so much and see you next chapter~