
Wanita tua itu langsung menutup telepon dan mengirim alamatnya melalui pesan sepuluh detik kemudian.
Olivia bahkan tak diberikan kesempatan untuk berbicara apalagi menolak perintah kencan itu, ia mengerutkan kening sambil menatap layar handphonenya.
Olvi berjalan mendekati Olivia dan bertanya karena penasaran.
"Kenapa, Ma?"
"Kencan buta."
"Kencan buta?"
"Jika kamu tidak menyukainya, Mama tidak akan pergi."
Olivia menatap putranya dan bergegas menghapus pesan itu.
"Tentu saja pergi! Mama sebaiknya pergi ke kencan buta."
Dengan cepat Olvi mengambil handphone Olivia dan kemudian duduk di pangkuan wanita itu.
Olvi menyentuh wajah Olivia dengan kedua tangannya yang kecil. "Mama, Om Yuta akan menikah dengan tante Julia dan Papa juga akan menikah dengan orang lain. Mama harus menemukan orang yang akan menikahi Mama, Meskipun aku pikir Mama bisa menikah denganku. Tapi aku masih kecil, guruku bilang kalau anak-anak tidak bisa menikah."
Mata Olivia memerah saat melihat putranya.
Benar, tak lama lagi Alio akan menikah dengan Nona Scarlett. Jika waktu itu tiba, Olivia harus pindah dan berpisah dengan Olvi.
__ADS_1
Semakin Olivia memikirkannya, semakin ia merasa sedih dan tak bahagia. Tapi ia tak berani menunjukkan perasaannya di depan putranya.
Olivia hanya tersenyum dan mencubit pipi Olvi. "Mama tahu, jika Mama benar-benar menikah dengan seseorang, kamu harus ada di sana sebagai pendamping mama."
"Oke."
Olvi berjanji karena moralitasnya yang setinggi langit.
Namun, setelah berpikir Olvi memanyunkan bibirnya. "Tapi orang itu harus lebih tampan dan lebih kaya daripada Papa. Terlebih lagi, dia harus baik pada Mama."
"..."
Olivia tersenyum pada putranya. "Baiklah, sekarang berhenti berkhayal!"
...—oOo—...
Setibanya di sebuah cafe Olivia pikir pria itu masih belum datang karena sekarang masih belum waktunya, masih ada sekitar 15 menit lagi.
Dia pun duduk disamping jendela sambil membaca sebuah buku dengan tenang karena bingung harus melakukan apa di kencan buta ini.
Di luar cafe, iring-iringan mobil perlahan melintas dan berhenti.
Jendela mobil di tengah iring-iringan mobil perlahan-lahan turun ke bawah dan wajah pemuda yang tampan luar biasa muncul dari balik sana.
"Apakah dia … Nona Olivia Stein?"
__ADS_1
Pria lain di dekatnya menjawab dengan hormat. "Ya, tuan muda kedua. Anda bisa pergi menemuinya sekarang."
Pria muda itu mengangguk dan melepas kacamata hitam yang menutupi sebagian wajah tampannya.
Dia membuka pintu mobil dan melangkahkan kakinya yang tinggi keluar dari dalam sana.
"Tinggalkan mobil ku, kalian bisa pergi! Ngomong-ngomong, beri tahu kakakku, aku akan menyelesaikan tugas dia ... dengan sangat baik."
"Tuan muda kedua, apakah Anda membutuhkan bodyguard?"
"Pergi saja sana, jangan menggangguku! Aku bukan Hansel atau Ayahku, tidak ada musuh politik yang akan melukaiku."
Pria muda itu melambaikan tangannya dengan tak sabar ia mengusir orang-orangnya.
"Kenapa juga aku harus pergi bersama bodyguard? Lagipula, kalian itu terlalu mencolok! Hanya akan merusak kencanku!"
"Baiklah kalau begitu."
Asistennya yang bernama Dave tak punya pilihan selain menyerah saat tuan mudanya itu bersikeras.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~