
"Nyonya, sarapan Anda."
Saat itu, maid kembali mendorong pintu masuk sambil membawa kereta makanan.
Alio juga sibuk di sana dan tak bisa berbicara lebih lama. "Makanlah sarapanmu, aku akan berusaha untuk pulang lebih awal malam ini."
Kalimat terakhir Alio membuat Olivia agak linglung, Alio mengatakannya dengan cara yang sangat normal, seolah-olah mereka adalah keluarga atau pasangan suami dan istri.
Pasangan suami dan istri?
Olivia merasa pahit dan tak bisa menahan tawa di dalam hati karena kekonyolan dirinya, ia menggelengkan kepalanya dan mengabaikan pikirannya. "Oke, tapi pekerjaanmu lebih penting."
Alio tak mengatakan apa-apa lagi, setelah dua orang diam di telepon untuk sementara waktu, pada akhirnya, mereka menutup telepon.
Maid itu membantu Olivia turun dari tempat tidur dan pindah ke sofa.
Olvi tak bisa membantu, jadi ia hanya berdiri disana sambil menatap khawatir Mamanya.
Olvi sudah sarapan, karena takut Mamanya kesepian makan sendiri, anak itu menemani Mamanya dan makan lagi.
Setelah makan, Olvi keluar sebentar, sementara itu dokter Lay datang dan membawa asistennya untuk merawat luka Olivia.
__ADS_1
Olivia baru menyadari bahwa tangannya terkilir kemarin, mungkin karena ia bersikeras untuk melawan.
Semen itu, dokter Lay baru saja meletakkan kotak obat dan seorang maid membuka pintu. "Nyonya, ada tamu di lantai bawah. Itu adalah Nona Rena, apakah Anda ingin menyuruh dia naik ke atas?"
Olivia memperhatikan bahwa ada yang aneh dengan dokter Lay, tubuhnya menjadi tegang dan gerakannya menjadi lebih lambat, seolah menunggu Rena naik ke atas.
Olivia mengerti sekarang, bahwa mereka berdua tak hanya saling mengenal.
"Ya, suruh dia datang ke sini."
Rena memakai kemeja dan celana jeans hari ini, karena cuaca di luar dingin, ia mengenakan jaket.
Rena membuka pintu dan masuk, ia sekilas melihat dokter Lay di kamar itu dan tak terkejut sama sekali.
Awalnya, Rena merasa hatinya akan terganggu. Tapi, ia baru saja membuat banyak persiapan mental yang cukup di lantai bawah, jadi ia bisa tenang sekarang.
"Aku mendengar kalau kamu diserang, aku terkejut setengah mati saat tahu kamu diculik!" Rena mengabaikan dokter Lay begitu saja dan langsung duduk di tempat tidur.
"Coba aku lihat lukamu."
"Untungnya, ini sudah membaik," balas Olivia tak ingin membuat Rena khawatir.
__ADS_1
"Apakah kamu tahu siapa yang ada di balik penculikan ini? "
Olivia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu."
"Kamu tidak bermusuhan dengan siapapun, Kecuali dengan Julia. tapi, dia tidak mungkin melakukan hal sejauh itu setelah dia kembali dari kediaman Pak Presiden." Rena sangat marah.
"Aku pikir memang bukan dia," ucap Olivia. "Aku tahu betul seperti apa dia, dia hanya berani menggertak, jika Julia benar-benar ingin membunuhku dia akan melakukannya sejak dulu."
"Itu memang sangat masuk akal," balas Rena mengangguk.
"Sudahlah, jangan terlalu khawatir. Aku lebih baik dari sebelumnya," ucap Olivia menggenggam tangan Rena dan diam-diam menatap dokter Lay. "Hari ini weekend. Bagaimana kalau tinggal di sini? Olvi sudah lama tidak bertemu denganmu, anak itu sangat merindukanmu."
Tak lama kemudian, Olvi membuka pintu dan masuk ke dalam.
Ketika Olivi melihat Rena, anak itu bergegas ke arahnya dengan antusias.
"Mami!!!"
— Bersambung —
***
__ADS_1
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
Thankyou so much and see you next part~