Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 149


__ADS_3

Alio duduk dengan sabar di kursi belakang dan menunggu sambil memandangi pintu gerbang utama Kementerian Luar Negeri.


Hari ini masih terlalu awal, jadi mereka tak boleh melewatkan Olivia.


Namun, tak lama kemudian... sopir keluar sendirian.


Alio mengerutkan kening.


Sopir itu naik ke dalam mobil dan melaporkan. "Pak presiden, nyonya Olivia tidak ada di sana."


"Ada apa?"


"Nyonya sedang cuti hari ini."


Cuti hari ini?


Olivia selalu menjadi orang yang berdedikasi, jadi wanita itu tak mungkin mengambil cuti kecuali itu mendesak.


Tapi, saat Olivia menelpon Alio hari ini, pria itu tak mendengarnya membahas apapun tentang hal itu.


Alio tetap diam dan sopir tak yakin apa yang sedang dipikirkan Pak Presiden, jadi sopir itu harus melihat ke arah Arnold.


"Kak, bagaimana kalau kita pulang ke kediaman Presiden dulu?" tanya Arnold pada Alio.


"Ayo jalan!" sahut Alio hanya mengucapkan dua kata simple.


Wanita ini benar-benar! pikir Alio


Pertama kali pria itu datang menjemput Olivia secara langsung, wanita itu malah tak ada disana.


Singkatnya, Olivia selalu punya cara untuk membuat Alio kesal.

__ADS_1


Alio mengerutkan kening sambil memainkan handphonenya sebentar dan akhirnya ia menelepon Olivia.


...—oOo—...


Melihat Olivia tertidur lagi, Yuta dengan hati-hati menyelimuti wanita itu di tempat tidur.


Mata Yuta menatap lekat ke arah Olivia, pria itu merasa enggan pergi.


Sementara itu, handphone Olivia di atas nakas samping tempat tidur tiba-tiba berdering.


Karena takut membangunkan wanita itu, Yuta bergegas mengambil handphone Olivia dan mencoba membisukan nada.


Namun, saat mata Yuta tertuju pada layar handphonenya, ia langsung menjadi sedih.


Nama kontak 'Suami Masa Depan' mencuat seperti pedang yang menembus jantungnya.


Yuta benar-benar penasaran dan ingin tahu siapa calon suami Olivia.


Pak Presiden?


Ibu jari Yuta tergelincir ke tombol jawab tanpa sengaja. Namun, sebelum pria itu bisa mendengarkan suara calon suami Olivia, handphone wanita itu berbunyi bip dan berubah menjadi layar hitam.


Ponsel Olivia mati.


Yuta menatap layar handphone yang gelap selama beberapa saat dan setelah itu, ia meletakkan handphone kembali ke tempat asalnya.


...—oOo—...


Sementara di sisi lain...


"Maaf, nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi, silahkan cobalah beberapa saat lagi..."

__ADS_1


Alio memegang handphonenya dan mendengarkan suara mekanis yang datang dari handphonenya, wajah pria itu semakin cemberut.


Alio sangat marah.


Dan pria itu menelpon Olivia lagi beberapa kali, tapi setiap kali ia menelpon, hanya suara mekanis yang menjawabnya.


Sekarang, Alio merasa sedikit gelisah.


Apa yang sedang dilakukan wanita itu?


...—oOo—...


Saat mereka tiba di kediaman Presiden, Alio mengganti sepatu dan melihat sekeliling dengan wajah masam.


"Di mana Olivia?" tanya Alio kepada salah satu maid yang menyambutnya.


"Nyonya belum kembali, Tuan."


Mendengar itu, Alio hampir sakit kepala, pria itu tak tahu kenapa dirinya sangat mudah gelisah hari ini.


"Papa, Om Sebas bilang Mama tidak akan pulang hari ini," ucap Olvi yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~

__ADS_1


__ADS_2