
Alio mengangkat pandangannya dan melirik sekilas ke arah Olivia, lalu hanya menjawab dengan dingin. "Tidak ada."
Olivia bingung dan menyerah. Ya sudahlah, kalo tidak ada ya tidak ada. Lalu, wanita itu tak mengatakan apa-apa lagi.
Sementara itu, Olvi yang mengenakan piyama, digendong turun dari lantai atas oleh seorang maid, anak itu masih terlihat mengantuk dan terus menggosok matanya.
"Mama, Papa!" panggil Olvi saat melihat kedua orangtuanya.
Anak itu menyapa dengan ngantuk dan refleks mengulurkan kedua tangannya ke arah Olivia tanpa sadar.
Kemudian, Olivia bangkit dari duduknya dan memeluk putranya. Anak laki-laki itu menggeliat manja di pelukan Olivia dan matanya tertutup lagi.
"Sayang, kamu tidak bisa tidur lagi, sudah waktunya pergi ke sekolah. Sekarang sudah jam 7, setelah makan dan berganti pakaian, akan jam 8 lebih.
"Tapi aku masih sangat mengantuk," ucap bocah kecil itu sambil menguap.
Olivia mengelus-elus punggung putranya dengan lembut. "Bangunlah dalam lima menit, kemudian makan bersama Mama dan Papa."
Olvi mengangguk lagi, sementara itu maid sudah mengantar sarapan untuk bocah itu.
Alio melihat sisi wajah Olivia yang penuh kasih sayang, serta kelakuan manja putra mereka, rasa cemburu menyebar ke seluruh tubuh pria itu.
__ADS_1
Alio mengerutkan alisnya, lalu berkata. "Pelayan, bawakan kursi anak-anak! Olivia, suruh anak itu duduk, jika kau terus menggendongnya seperti itu, dia pasti akan tertidur lagi."
"Oke," ucap Olivia sambil mengangguk, lalu menatap putranya, "Sayang, kita duduk aja, ya?"
"Hm," jawab Olvi dengan malas-malasan.
Kemudian, maid menggeser kursi anak-anak ke arah mereka dan Olivia meletakkan putranya di kursi tersebut.
Olvi duduk di kursi dan menggelengkan kepalanya dua kali agar tersadar dari ngantuk, hampir saja anak itu terjungkal, tapi dengan sigap dipegang oleh Alio sebelum terbentur keras di kursi.
Saat sudah makan setengah, akhirnya Olvi mulai agak sadar, Olivia langsung menyodorkan handphonenya. "Sayang, sekarang ubah namanya, ya?"
"Nama kontak di handphone Mama," jawab Olivia langsung membuka kontak di handphonenya.
"Oh, ini," ucap Olvi tiba-tiba sadar, lalu ia mendekati telinga Olivia dan bertanya dengan suara pelan, "Papa udah lihat?"
"Tentu saja!" jawab Olivia cepat.
"Papa nggak senang?" tanya Olvi sambil melihat ke arah mamanya dan ke arah Alio yang wajahnya tak begitu bahagia di sampingnya.
Olivia mengangguk. "Papamu sangat tidak senang."
__ADS_1
"Oke, kalau begitu aku akan mengubahnya untuk Mama." Olvi dengan patuh meletakkan sendok kecilnya, mengambil handphone Olivia dan dengan cepat mengubah nama kontak itu.
Jari-jari Olvi bergerak hanya dengan beberapa kali klik, melihat gerakan anak itu, Alio mengerutkan kening dan ingin mengatakan sesuatu, tapi sebelum pria itu sempat bicara, Olvi bersuara. "Sudah selesai, aku menyimpannya dengan nama 'Om Sangar' untuk Mama~"
Om sangar, Olivia memikirkan kata itu dan merasa sedikit lucu, hanya bocah nakal ini yang berani memanggil Alio dengan sebutan aneh seperti itu.
"Tidak boleh dipanggil seperti itu!" ucap Alio yang mendengar perkataan itu, ia mengangkat kepalanya dan menatap Olivia dengan tajam.
Olivia pura-pura tak melihat dan terus menatap layar handphonenya sambil berucap pelan. "Om sangar."
Senyum wanita itu semakin lebar, ia melirik ke arah Alio dan berkata. "Jangan menatapku seperti itu, aku tidak memanggilmu!"
- Bersambung -
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1