Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 226


__ADS_3

Apa maksudnya ini? Alio tak mengerti. 


Olivia menginginkan anak itu dan pada saat yang sama, Olivia ingin meninggalkan Alio. 


Mereka berdua bisa menjadi bagian dari masa depan Olvi, tapi Olivia meminta Alio untuk keluar dari masa depannya.


Alio tak akan membiarkan ini.


"Memohon?" tanya Alio menatap Olivia sambil mengejek. "Bagaimana kau bisa memohon padaku?"


Olivia tak punya apa-apa selain anak itu.


"Apa yang kamu inginkan dari aku? Aku bisa memberimu apa saja untuk mendapatkan anakku kembali."


Olivia cukup tangguh.


"Apa pun? Olivia, bagaimana jika aku ingin kau memohon padaku untuk naik ke ranjangku?" Alio menekankan setiap katanya untuk mempermalukan wanita itu.


Olivia tak pernah berpikir Alio bisa mengatakan hal-hal seperti itu, ia terkejut, Alio marah dan reaksi Olivia membuatnya semakin marah.


Alio semakin mendekat dan menyudutkan Olivia. "Aku bisa memberimu waktu untuk memikirkannya, tapi kau harus memberiku jawabanmu malam ini, kau tidak bisa membawanya pergi lagi setelah malam ini."


"Papa, kenapa Papa masih di sana?" Olvi berteriak dari ruang makan. 


Tiba-tiba sesuatu menampar Olivia cukup keras dan membuatnya sadar, ia melangkah mundur dan terus memikirkan apa yang baru saja dikatakan Alio. 


Memohon pada pria itu untuk naik ke ranjangnya?

__ADS_1


Alio tak mengatakan apa-apa, pria itu berbalik dan berjalan menuju ke luar dapur. 


Mendengar keributan di dapur membuat Olvi cemas, jadi ia mendatangi mereka. "Papa, apakah Papa membully Mama? Jangan memarahinya! Aku akan—"


Tiba-tiba Olvi terdiam dan kata-katanya tersangkut di tenggorokannya, anak itu mendongak hanya untuk melihat tampang dingin Papanya, mata gelap Alio membuatnya sangat takut.


Papanya tak terlihat dalam mood yang baik.


Alio mengabaikan putranya dan berjalan pergi. 


Olvi langsung berlari masuk ke dapur. "Mama, apakah Mama baik-baik saja? Apakah Papa memarahi Mama? Wajah papa tampak jelek."


Olivia tak ingin Olvi mengkhawatirkannya, ia berbalik dan berusaha untuk tenang. "Jangan khawatir! Tidak ada yang memarahi Mama."


"Benarkah?"


Olvi menatap Olivia selama beberapa saat, melihat Mamanya tersenyum, ia juga tersenyum. 


Anak itu berjinjit, mencoba melihat ke atas piring. "Di mana ayam pesananku?"


Olivia sekarang ingat masakannya. 


Untungnya, ayam masakannya tak dingin. "Tunggu di meja makan, mama akan segera membawakan ayam pesanan kamu."


"Oke Mama, aku akan menunggumu disana!" balas Olvi mencium Olivia dan berlari keluar dari dapur.


Olivia berjalan keluar dapur sambil membawa ayam masakannya, ia melihat Olvi sudah duduk di meja makan.

__ADS_1


Lalu, Olivia juga melihat ada seorang pria duduk di kursi utama di meja makan.


Lampu kristal mewah memperlihatkan dengan jelas wajah dingin pria itu.


Alio sedang menikmati makan malam, pria itu masih bersikap seperti pria terhormat di meja makan meskipun dia sangat marah.


Alio bahkan tak melirik Olivia ketika wanita itu berjalan ke ruang makan seolah-olah Olivia tak ada di sana.


Semua orang di ruang makan termasuk Olvi bisa merasakan ada sesuatu yang tak beres di antara mereka.


Olvi kesal, kenapa sekarang Papa memasang ekspresi dingin di wajahnya karena Mama ada di rumah? Papa akan menakuti Mama, Papa bahkan tidak tahu bersikap baik kepada wanita!


Anak itu diam-diam mengeluh dan melambai pada Olivia.


Olivia berjalan mendekati putranya dan seorang maid menarik kursi untuknya.


Wanita itu hanya memasak beberapa ayam untuk putranya.


"Mama, satu untukmu, satu untukku," ucap Olvi hati-hati dengan suara pelan seolah anak itu tak ingin menyinggung seseorang.


Olvi tak ingin membuat seseorang marah, anak itu menatap pria yang duduk di kursi utama dan merasa lega saat mengetahui Alio tak memperhatikan apa yang terjadi.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)

__ADS_1


Thankyou so much and see you next part~


__ADS_2