Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 372


__ADS_3

"Aku tahu sedikit—" ucap Lucas berhenti sejenak, melirik Olivia, lalu melanjutkan, "Itu tidak baik."


Tangan Olivia yang berada di atas pahanya menegang, jawabannya sudah bisa dibayangkan, tetapi setelah mendengar Lucas mengatakannya secara langsung, hatinya jadi berdegup kencang dan tak beraturan.


Setelah beberapa waktu, baru Olivia bertanya. "Oh iya, mencari aku larut malam begini ada apa?"


"Dalam beberapa hari ini, pasti akan ada paparazzi yang mengawasi Alio, cobalah untuk tidak dekat dengannya," jawab Lucas memperingatkan, "Jika orang-orang tahu bahwa wanita itu adalah kamu, aku takut ... baik kamu maupun Olvi akan berada dalam bahaya."


Olivia tahu bahwa Lucas sedang khawatir dengan dirinya, ia merasa berterima kasih dan mengangguk. "Jangan khawatir, aku mengerti."


"Dan—" ucapan Lucas lagi-lagi menggantung. Wajah pria itu menjadi serius, ia melihat wajah Olivia yang tampak layu karena mengkhawatirkan Alio.


Meski merasa iba, Lucas tetap berkata dengan jujur. "Aku mendengar bahwa hari ini Wakil Presiden Dion Scarlett telah datang menemui Alio. Kali ini, bukan lagi sekadar pertunangan."


Napas Olivia terasa tercekik.


Lucas melanjutkan. "Scandal ini harus menghilang dari perhatian publik, hanya dengan munculnya berita yang lebih sensasional. Oleh karena itu, saran dari Dion Scarlett adalah agar Alio dan Angela Scarlett langsung menikah tanpa bertunangan. Saat itu ... Angela Scarlett juga akan menggantikanmu dalam konferensi pers."


Olivia duduk di dalam mobil tanpa mengatakan sepatah kata pun dalam waktu yang lama dan ia hanya menatap keluar jendela dengan tatapan hampa.

__ADS_1


Lucas yang tak tahu apa yang sedang Olivia pikirkan, juga tak mengucapkan sepatah kata pun, hanya diam dan menunggu dengan tenang.


Dalam keheningan seperti itu, Lucas juga merasakan kekecewaan dan kesedihan di hati Olivia.


"Jadi ... Apakah dia setuju?"


Ketika Lucas berpikir Olivia tak akan mengatakan apa-apa lagi, Olivia dengan suara pelan bertanya dan memecahkan keheningan di antara mereka.


"Dari yang aku tahu—" ucap Lucas ragu-ragu, "Alio belum menolak untuk saat ini."


Bulu mata Olivia bergetar, Lucas merasa tak tega dan menambahkan. "Tapi, sebenarnya tidak ada yang bisa menebak apa yang Alio pikirkan. Kamu harus tahu, orang yang bisa menduduki posisi itu tidak mudah untuk dimanipulasi, jadi—"


Olivia mengucapkan kata-kata itu, tapi ia tak tahu—apakah ia bisa meyakinkan dirinya sendiri. Bukannya Olivia tak percaya pada kemampuan Alio, hanya saja ... situasi saat ini tampaknya menjadi masalah yang sulit dipecahkan.


...—oOo—...


Setelah berpisah dengan Lucas, Olivia kembali ke apartemen Rena, hatinya terbebani dengan perasaan gelisah.


Olivia berbaring di atas tempat tidur, tanpa sedikit pun rasa kantuk, ia terus-menerus memeriksa handphonenya, kadang-kadang merasa handphonenya berdering.

__ADS_1


Tapi saat Olivia mengeluarkan handphonenya dari bawah bantal, tak ada telpon sama sekali.


Karena sangat susah untuk tertidur, Olivia berguling-guling di tempat tidur selama berjam-jam.


Tapi, pada akhirnya—Olivia tertidur juga dan mulai bermimpi.


Dalam mimpinya, Alio dihadapkan pada kecaman dan pertanyaan dari semua orang, Alio kehilangan rasa hormat, penghormatan dan kepercayaan publik.


Alio yang sangat bersinar, kehilangan kilau yang seharusnya dimilikinya dan menjadi orang yang dibenci di negara ini—sehingga hal itu membuat Olivia merasa sedih.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~

__ADS_1


__ADS_2