
"Mama, bisa tolong turunkan aku?" bisik Olvi, lalu Olivia langsung menurunkannya. Olvi kemudian mengalihkan kamera dari depan ke belakang, memperlihatkan suasana pasar malam kepada Alio.
"Papa, lihat, bukankah menyenangkan di sini?" tanya Olvi dengan semangat.
"Hmm," balas Alio dengan suara lembut dan tenang seperti biasa.
Tapi Olvi masih diliputi oleh antusiasme dan terus memamerkan pada Alio. "Makanan di sini sangat lezat! Gulalinya juga sangat enak, apakah Papa ingin mencicipinya?"
"Tidak! Mengapa Mamamu membiarkanmu memakannya? Pelajaran pergi ke rumah sakit dua kali itu tidak cukup?"
Olvi cemberut, "Papa, apakah Papa tahu betapa kecewanya aku sekarang? Orang-orang bisa tumbuh lebih cepat karena makan lebih banyak. Aku harus makan lebih banyak supaya cepat tinggi!"
Alio hanya tersenyum samar. "Makanlah makanan yang sehat, dan jangan terlalu banyak makan makanan tidak sehat. Sekarang berikan ponsel itu kembali ke Mamamu!"
Olivia siap untuk di marahi, meski masih merasakan sakit dari bekas luka di tubuhnya, ia merasa sedikit lebih baik.
Meskipun Olivia tahu perut Olvi tak dalam kondisi yang baik, anak itu tetap memohon dengan mata berkaca-kaca.
Olivia tidak ingin menjadi seperti Alio yang kejam, bahwa Olvi tak diperbolehkan makan junk food, bahkan jika anak itu memegang kakinya dan mengemis.
Ketika Olivia hendak berbicara di telepon dengan Alio, Olvi tak memberi mereka kesempatan untuk berbicara sama sekali. "Papa, Mama sangat sibuk sekarang, Mama tidak punya waktu untuk menjawab telpon Papa! Aku akan menutup telepon, kita akan pergi ke teater mobil, mohon maaf silahkan kembali bekerja, kami menyayangimu muach."
Tanpa menunggu lawan bicaranya mengatakan apa-apa, jari jempol Olvi dengan cepat menekan tombol hang up.
__ADS_1
Di layar, wajah gelap dan tampan berhenti sejenak, lalu menghilang.
Olvi tak akan memberi Alio kesempatan untuk menghentikan Mama membelikannya makanan ringan!
Tangan Olivia yang sebelumnya hendak menjawab telepon tiba-tiba berhenti di udara saat melihat layar yang telah menjadi hitam.
Terdapat bayangan samar yang muncul di matanya. Namun, Olvi tampaknya mampu bereaksi terhadap situasi tersebut.
"Ah, apakah aku harus menelepon Papa lagi?" tanya Olvi.
"Tidak, Sayang," jawab Olivia sambil menggelengkan kepalanya dan anak itu mengembalikan handphone tersebut.
"Untung saja kamu menutup telepon dengan cepat dan menyelamatkanku dari godaan untuk membelikanmu makanan yang tidak sehat," lanjut Olivia.
Namun Olivia menolak, "Maaf, sayang. Aku tidak bisa terlalu lembut padamu."
"Hanya satu saja," pinta Olvi.
Setelah berpikir sejenak, Olivia menggelengkan kepalanya, "Sayang, setengah dari makanan ringan tersebut tidak sehat. Aku khawatir Papamu akan mempermasalahkannya dan bahkan tidak membiarkanku bertemu denganmu lagi."
Wajah Olvi tampak murung, air matanya berlinang. "Aku seharusnya tidak pernah melakukan video call dengan Papa," gumamnya sedih. "Aku sangat membenci Papa!"
...—oOo—...
__ADS_1
Mengikuti permintaan Olvi, Olivia mengajaknya ke teater mobil. Karena mereka tak memiliki mobil, mereka menyewa sebuah Volkswagen sederhana untuk sementara waktu.
Tempat parkir sepi dan hanya sedikit mobil yang terparkir di sana. Film yang diputar sudah pernah ditonton oleh Olivia, sehingga ia tak terlalu tertarik.
Olivia sibuk mengunyah popcorn sambil memandangi putranya.
Melihat putranya menari dengan bahagia, Olivia tersenyum polos dan tak bisa menahan tawanya. Baginya, menonton putranya lebih menyenangkan daripada menonton film.
Anak itu bisa mengunjunginya kapan saja, Olivia tak akan memaksa Olvi untuk tinggal bersamanya. Baginya, bersama Olvi seperti ini sudah cukup menyenangkan.
Olivia bersandar di kursi pengemudi dengan pikiran melayang-layang, membiarkan mata terpejam.
Namun, ketika rasa kantuk menghampiri Olivia, tiba-tiba sinar cahaya yang kuat menerpa dari arah belakang, baik dari dekat maupun jauh.
Sinar tersebut menabrak kaca spion dan menyebabkan mata Olivia terasa sakit. Tanpa disadari, tangan Olivia spontan memblokir cahaya tersebut dan ia melihat ke belakang.
Film ini telah berjalan begitu lama, bagaimana mungkin ada mobil yang tiba-tiba masuk? Dan tampaknya bukan hanya satu mobil yang masuk.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
__ADS_1
Thankyou so much and see you next part~